Telusuri sejarah panjang Masjid Jami’ Darussalam Kotasiantar, ikon religi Mandailing Natal sejak 1973 yang kini menjadi pusat peradaban dan sosial masyarakat Panyabungan.
Panyabungan, StartNews – Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bukan sekadar hamparan bumi di Sumatera Utara yang dianugerahi panorama alam memukau. Di balik hijau royo-royo persawahan dan udara pegunungan yang sejuk, tersimpan kekayaan sejarah, budaya, dan spiritualitas yang mendalam.
Di sinilah, bangunan-bangunan rumah Tuhan berdiri megah bukan hanya sebagai simbol arsitektur, melainkan sebagai pusat gravitasi sosial dan keharmonisan masyarakatnya. Salah satu permata religi yang menjadi kebanggaan warga adalah Masjid Jami’ Darussalam yang terletak di Kelurahan Kotasiantar, Kecamatan Panyabungan.
Berdiri kokoh di tengah pemukiman yang kental dengan adat Mandailing, Masjid Jami’ Darussalam memiliki riwayat yang panjang. Jauh sebelum dinding betonnya berdiri tegak seperti sekarang, masjid ini merupakan bangunan sederhana yang menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya iman masyarakat lokal.
Sekretaris BKM Masjid Jami’ Darussalam Ahmad Saiful Harahap, seperti dikutip dari kanal Youtube MUI Sumatera Utara, menceritakan pondasi spiritual di lokasi ini sudah tertanam sejak lama, bahkan sebelum sertifikasi resmi dilakukan oleh pemerintah.
Ahmad Saiful Harahap menjelaskan pada masa lampau, masjid ini masih menggunakan konstruksi kayu dan beratapkan seng. Menurut dia, bangunan permanen yang terlihat hari ini mulai mendapatkan legitimasi dan bentuk kokohnya pada awal dekade tujuh puluhan.
“Bangunan ini secara permanen dan mendapatkan sertifikat dari pemerintah sejak tahun 1973. Berdasarkan sertifikat itu pula, maka dibuatkan surat bendera masjid pada tahun yang sama. Sejak tahun 1973 itulah bangunan ini mulai dipermanenkan dalam bentuk beton,” kata Ahmad Saiful saat menjelaskan kronologi fisik masjid.
Hingga saat ini, Masjid Jami’ Darussalam telah berkembang menjadi kompleks ibadah yang luas. Bangunan utamanya sendiri kini berukuran sekitar 23 x 23,5 meter. Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk area pekarangan, menara, hingga fasilitas pendukung di bagian belakang, luas total kawasan ini diperkirakan mencapai area yang lapang guna menampung ribuan jamaah.
Keberhasilan menjaga eksistensi masjid ini juga tidak lepas dari dedikasi para pengurus dan pegawai seperti Pak Didi, Pak Punar, dan Muhammad Rizieq yang memastikan operasional ibadah berjalan lancar setiap harinya.
Masjid ini tidak pernah sepi dari lantunan ayat suci. Selain salat berjamaah lima waktu, Masjid Jami’ Darussalam menjadi pusat edukasi melalui pengajian rutin Al Madinah Ta’mim. Aktivitas intelektual dan spiritual ini diadakan secara intensif, mulai dari ba’da Maghrib hingga Isya, serta dilanjutkan kembali setelah salat Subuh.
Untuk memperkaya wawasan jamaah, pihak pengurus tidak hanya mengandalkan sumber daya lokal. Mereka sering mengundang khatib dari luar kampung, termasuk para akademisi dan dosen dari STAIN Mandailing Natal, guna memberikan pencerahan yang lebih segar dan kontekstual bagi masyarakat Kotasiantar.
Prestasi Masjid Jami’ Darussalam pun telah diakui hingga tingkat provinsi. Tercatat, masjid ini pernah meraih juara kedua tingkat Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2001, kemudian juara III pada tahun 2011 di tingkat yang sama.
Prestasi teranyar yang membanggakan adalah keberhasilan menyabet gelar Juara I Masjid Teladan se-Kabupaten Mandailing Natal dua tahun yang lalu. Pencapaian ini membuktikan bahwa manajemen masjid dikelola dengan profesional, baik dari segi kemakmuran masjid maupun pemeliharaan fisiknya.
Keunggulan lain yang membuat masjid ini sangat dicintai adalah fasilitas sosialnya yang mumpuni. Area parkir yang luas, sekitar 15 x 30 meter, mampu menampung banyak kendaraan tanpa mengganggu akses jalan.
Selain itu, terdapat 28 kamar mandi yang bersih, tempat wudhu yang nyaman, serta layanan armada ambulans gratis bagi seluruh masyarakat Kotasiantar tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Ahmad Saiful menekankan visi kedepan adalah terus merenovasi dan memperluas area salat ke arah belakang dan samping untuk menjawab kebutuhan jamaah yang terus meningkat.
Pengurus juga menitipkan harapan besar kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk terus menjaga keberlangsungan rumah ibadah ini.
“Harapan kami kedepan, masyarakat yang domisili di sini maupun dari luar, mohon doanya bagaimana supaya kita membangun masjid ini dan bisa digunakan untuk sarana ibadah dengan maksimal. Kami juga memohon dukungan dan bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi supaya pembangunan masjid ini tidak mengalami hambatan atau cacat di masa mendatang,” kata Ahmad Saiful Harahap.
Reporter: Sir





Discussion about this post