Panyabungan, StartNews – Setelah empat periode menakhodai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Khoiruddin Faslah Siregar akhirnya memilih untuk ‘turun minum’. Pria yang telah menjadi wajah identik PKB di Bumi Gordang Sambilan ini memastikan diri tidak akan lagi bertarung dalam bursa calon ketua pada Musyawarah Cabang (Muscab) yang dijadwalkan berlangsung tahun ini.
Keputusan ini menandai berakhirnya sebuah era panjang kepemimpinan Faslah, sekaligus membuka pintu lebar bagi sirkulasi elite baru di tubuh partai berlambang bola dunia tersebut.
Bagi Faslah, langkah mundur ini bukanlah bentuk kepasifan, melainkan strategi untuk menjaga relevansi partai di tengah perubahan zaman yang kian pesat. Dia menyadari betul bahwa lanskap politik saat ini telah bergeser ke arah digitalisasi dan dominasi pemilih muda.
“Tren pemilu dua periode terakhir menunjukkan konstituen didominasi anak muda. Partai harus dinamis,” ujar mantan anggota DPRD Madina tersebut saat ditemui di Panyabungan, Sabtu (10/1/2026).
Dia meyakini kecanggihan teknologi dan semangat zaman adalah ‘makanan sehari-hari’ generasi muda yang harus dimanfaatkan untuk membesarkan PKB.
Meski tak merinci alasan personal di balik keputusannya, Faslah mengaku langkah ini telah direstui sepenuhnya oleh pihak keluarga. “Keluarga mendukung, sama seperti keputusan-keputusan politik saya sebelumnya,” imbuhnya dengan nada mantap.
Walau tak lagi duduk di kursi nakhoda, darah Faslah tampaknya akan tetap ‘hijau’. Dia menegaskan PKB adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Faslah berjanji akan tetap menjadi bagian dari partai dan siap memberikan wejangan bagi penerusnya nanti.
“Saya tetap akan menjadi bagian dari partai. Pintu saya terbuka untuk memberikan masukan kepada ketua berikutnya,” tegasnya.
Kini, publik politik Madina mulai menerka-nerka siapa sosok yang akan menggantikan peran sentral Faslah. Sejumlah nama kader muda potensial yang telah teruji loyalitasnya mulai mencuat ke permukaan.
Muscab PKB Madina mendatang bukan sekadar agenda rutin pemilihan ketua, melainkan sebuah ujian pembuktian: sejauh mana partai yang didirikan oleh Gus Dur ini mampu bertransformasi di bawah kendali generasi baru yang disebut-sebut oleh Faslah sebagai generasi yang ‘teruji secara loyalitas’.
Reporter: Sir





Discussion about this post