Panyabungan, StartNews Rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) merevitalisasi pesanggarahan Sukarno yang ada di Sumut, termasuk Pesanggrahan di Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Satu di antara dukungan itu disampaikan oleh Sekretaris Dewan Pakar MPC Pemuda Pancasila Madina Moechtar Nasution.
Dalam diskusi yang digelar Pemuda Pancasila di sekretariatnya pada Sabtu (15/1/2022) kemaren, Moechtar mengatakan rencana revitalisasi pesanggarahan itu merupakan salah satu ikhtiar dan kemauan luhur (political will) Pemprov Sumut dan masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai- nilai kebangsaan, yang juga berdampak signifikan bagi penguatan nilai kepeloporan (heroisme), kejuangan (patriotisme), dan kesejarahan (historis) sekaligus wujud nasionalisme dalam memupuk kesadaran publik terhadap sejarah perjuangan para foundiing father Republik Indonesia, khususnya Ir. Soekarno di tanah Mandailing.
BACA JUGA:
Pemprov Sumut akan Revitalisasi Pesanggrahan Bung Karno di Kotanopan
Presiden Soekarno dalam lawatannya di daerah Tapanuli pada tahun 1948 diawal kemerdekaan pernah singgah dan berkunjung ke Kotanopan untuk menghadiri rapat raksasa guna menyemangati masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan. Kotanopan juga pernah menyimpan segudang sejarah pergerakan melawan penjajah,” tutur alumni Program Studi Sejarah Unimed ini.
Pada masa itu, kata dia, gegap-gempita dan pekikan merdeka membahana di seluruh Kotanopan untuk menyambut kedatangan Ir. Soekarno. “Sebagai bentuk kecintaan terhadap negara yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya, ribuan masyarakat tumpah ruah memadati jalanan yang datang dari seluruh penjuru untuk melihat dan mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang dengan lantang membakar semangat masyarakat dalam rapat raksasa di Kotanopan dengan orasi kemerdekaan,” imbuhnya.
Soekarno berpidato di teras Pesanggarahan Kotanopan supaya terlihat oleh ribuan masyarakat yang sudah menunggunya, karena letak teras ini pada posisi yang tinggi setelah melewati lebih kurang 10 anak tangga.
“Peristiwa ini terjadi tanggal 16 Juni 1948 dan selamanya tetap menjadi memori kolektif masyarakat yang tidak akan pernah hapus, karena tempat bersejarah masih ada dan terpelihara dengan baik, katanya.
Menurut dia, pelestarian warisan sejarah seperti Pesanggrahan Kotanopan menjadi urgen dan vital dalam transformasi zaman di tengah revolusi industri 4.0 dan society 5.0 sebagai bagian penguatan kepribadian dan identitas bangsa. Juga menjadi referensi ilmu pengetahuan dan sains, terutama sejarah bagi generasi muda.
Keuntungan lainnya, menurut Moechtar yang juga ASN di Pemkab Madina, pesanggarahan dapat menjadi destinasi wisata sejarah yang berpeluang dijadikan historical heritage. Apabila dikelola secara profesional akan mendatangkan keuntungan bagi UMKM dan masyarakat sekitar.Sebab, daerah sekitar pesanggarahan juga dikelilingi situs bersejarah lainnya seperti Tugu Perintis Kemerdekaan, Tugu Pahlawan, tiang bendera di Pasar Kotanopan yang dibangun tahun 1945, dan SDN 01 Kotanopan yang tetap utuh dengan bangunan kolonialnya.
“Harapan kita dari Dewan Pakar PP Madina agar kiranya Pemkab Madina segera menginisiasi lahirnya Perda tentang Cagar Budaya sebagai upaya proteksi terhadap peninggalan bersejarah yang ada di Madina dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai, tradisi, budaya, dan sejarah kita,” paparnya.
Dia juga mengapresiasi langkah Pemprov Sumut menggandeng Beranda Warisan Sumatera (BWS), organisasi nirlaba yang misinya menumbuhkan kesadaran pentingnya pelestarian warisan budaya.
Reporter: Rls





Discussion about this post