Menelusuri kedalaman makna Tradisi Martelong-telong di Mandailing Natal, sebuah pawai obor menyambut Ari Rayo yang menjadi simbol kepulangan dan identitas bagi diaspora Madina.
Jakarta, StartNews – Bagi seorang putra daerah Mandailing Natal (Madina) yang sedang meniti nasib di tanah rantau, entah itu di hiruk pikuk Jakarta atau jauh di seberang lautan, gema takbir yang mulai terdengar di televisi seringkali memicu rasa sesak yang akrab disebut kerinduan.
Ingatan mereka biasanya tidak hanya tertuju pada sepiring ketupat, melainkan pada sebuah fragmen ingatan tentang cahaya jingga yang membelah kegelapan desa. Itulah Martelong-telong, sebuah tradisi pawai obor yang telah menjadi denyut nadi identitas masyarakat Madina dalam menyambut malam Ari Rayo atau Hari Raya Idul Fitri.
Istilah Martelong-telong bukan sekadar aktivitas membawa api, melainkan sebuah ritual kolektif yang menyatukan seluruh elemen warga, mulai dari anak-anak hingga remaja. Di berbagai sudut kecamatan seperti Panyabungan dan Siabu, bambu-bambu yang telah dipotong rapi dan diisi minyak tanah menjadi instrumen utama dalam merayakan kemenangan.
Bagi para diaspora, aroma khas minyak tanah yang terbakar bercampur dengan bau bambu segar adalah aroma “pulang” yang tidak bisa digantikan oleh kemilau lampu neon di kota-kota besar. Cahaya obor tradisional ini dianggap sebagai simbol semangat yang tetap menyala meski raga sedang berada jauh dari tanah kelahiran.
Suasana malam takbiran di Mandailing Natal memiliki frekuensi yang berbeda berkat kehadiran Martelong-telong. Tidak hanya barisan obor yang terlihat berkeliling desa atau kota, tetapi iramanya pun terasa begitu magis.
Getaran dari Gordang Sambilan yang mengiringi langkah kaki para peserta pawai seolah berbicara langsung kepada jiwa, memperkuat lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan. Perpaduan antara lidah api yang menari ditiup angin malam dengan dentuman perkusi tradisional ini menciptakan atmosfer religius yang heroik sekaligus mengharukan bagi siapapun yang menyaksikannya.
Namun, kekayaan tradisi menyambut Ari Rayo di bumi Mandailing tidak berhenti pada pendar cahaya obor semata. Martelong-telong sebenarnya puncak dari sebuah keriuhan yang telah dimulai sejak matahari masih tinggi melalui tradisi Mangalomang. Memasak lemang di dalam bambu sehari sebelum Lebaran menjadi semacam mukadimah sebelum malam puncak tiba.
Bagi diaspora, bayangan kepulan asap dari pembakaran lemang di halaman rumah dan cahaya obor di malam hari menjadi satu paket memori yang selalu berhasil memanggil mereka untuk kembali bersimpuh di kampung halaman.
Secara filosofis, Martelong-telong yang terus lestari hingga kini membawa pesan mendalam tentang syiar Islam dan kekuatan persaudaraan. Setiap obor yang menyala merepresentasikan satu nyawa yang saling terhubung dalam barisan panjang kebersamaan, tanpa memandang status sosial.
Itulah yang membuat tradisi tersebut begitu melekat di hati para perantau. Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun mereka melangkah, cahaya dari Mandailing Natal akan selalu menjadi kompas untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai spiritual yang telah membentuk mereka sejak kecil.
Reporter: Sir





Discussion about this post