Batahan, StartNews – Suasana di Desa Batu Sondat, Kecamatan Batahan pada Kamis (8/1/2026) terasa berbeda. Di antara sisa-sisa aroma lumpur yang mulai mengering, tampak kerumunan warga menyambut kehadiran Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution dan rombongan. Kunjungan ini bukan sekadar agenda protokoler, melainkan pertemuan hati antara pemimpin dan rakyatnya yang sedang terluka akibat bencana.
Batu Sondat merupakan salah satu titik yang merasakan betapa perkasanya banjir beberapa waktu lalu. Kini, di bawah terik matahari, Saipullah hadir membawa rombongan OPD dan Asisten II, berjalan menyisir sudut-sudut desa untuk memastikan bahwa warganya tidak merasa berjuang sendirian.
Fokus utama bupati tertuju pada hamparan lahan yang dulunya hijau dan produktif. Kini, sekitar 70 hektare lahan pertanian dan perkebunan di desa ini menyerupai padang mati. Material lumpur setinggi satu meter menimbun harapan para petani, membuat lahan tersebut tak lagi bisa ditanami dalam waktu dekat.
“Lahan ini adalah urat nadi masyarakat. Tertimbun lumpur setinggi satu meter berarti kehilangan mata pencaharian. Karena itu, saya meminta laporan secara khusus untuk dicarikan jalan keluarnya,” ujar Saipullah saat meninjau area perkebunan.
Pemandangan lahan yang rata oleh lumpur itu menjadi pengingat betapa beratnya beban yang dipikul warga Batu Sondat saat ini. Namun, kehadiran bupati di tengah mereka memberikan pesan bahwa pemerintah sedang bekerja.
Di sela-sela ramah tamah yang berlangsung hangat, Saipullah memberikan kabar yang selama ini ditunggu-tunggu warga. Berdasarkan data kabupaten, terdapat 2.700 unit rumah yang rusak ringan hingga berat di seluruh Madina.
Saipullah mengungkapkan hasil rapat koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri yang memberikan angin segar bagi para penyintas bencana. Pemerintah pusat telah menyiapkan skema bantuan perbaikan rumah, yakni Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat.
“Saat ini kami sedang melakukan pendataan menyeluruh. Tidak hanya rumah, tapi juga jalan, jembatan, hingga irigasi. Mudah-mudahan dana tersebut cepat turun sehingga bisa segera kami distribusikan kepada Bapak dan Ibu sekalian,” tutur Saipullah.
Pertemuan itu ditutup dengan momen bupati menyerahkan bantuan berupa genset, senter, tenda, hingga sepatu boot. Bagi warga yang masih berjibaku dengan sisa lumpur dan kegelapan akibat infrastruktur listrik yang mungkin belum stabil, bantuan ini sangat bermanfaat.
Sepatu boot yang diserahkan menjadi simbol bahwa warga harus kembali berdiri tegak untuk membersihkan desa mereka. Sementara genset dan senter menjadi penerang di tengah masa transisi yang sulit.
“Sebelumnya sembako sudah kami salurkan. Sekarang kami bawa alat-alat pendukung ini. Jangan dilihat dari jumlahnya, tapi ini bentuk kehadiran kami untuk terus membersamai Bapak dan Ibu sampai Batu Sondat pulih kembali,” tutur Saipullah.
Sore itu, saat rombongan bupati mulai meninggalkan lokasi, ada senyum yang mulai terkembang di wajah warga Batu Sondat. Perjalanan menuju pemulihan total memang masih panjang dan tertutup lumpur. Namun, hari ini mereka tahu, ada tangan yang siap menarik mereka keluar dari kesulitan itu.
Reporter: Sir





Discussion about this post