GENAP satu tahun lebih satu hari, momen ulang tahun yang pertama untuk pemerintahan kebanggaan kita. Tidak terasa, sudah setahun masyarakat di kabupaten ini disuguhi pertunjukan “stabilitas” yang luar biasa. Saking stabilnya, kita hampir tidak merasakan ada guncangan inovasi atau gebrakan yang mengganggu ketenangan status quo daerah ini.
Saat masa kampanye Pilkada 2024 lalu, telinga kita dipenuhi gema akronim yang mengandung makna “seiya-sekata” untuk membawa kesejahteraan rakyat ke puncak tertinggi.
Namun, setelah setahun berjalan, nampaknya akronim itu mengalami pergeseran makna yang cukup estetik: Seiya Sekata dalam Menunggu.
Kita patut mengapresiasi kerendah-hatian pasangan pemimpin kita ini. Mereka nampaknya sangat menghindari sifat sombong, sehingga “gebrakan-gebrakan” yang dijanjikan dulu sengaja disimpan rapat-rapat agar tidak terlihat oleh mata telanjang rakyat.
Inovasi kebijakan yang kita tunggu-tunggu nampaknya masih menjadi “rahasia negara” yang belum saatnya diungkapkan ke publik. Mungkin kita yang terlalu tidak sabar.
Bukankah membiarkan kondisi ekonomi berjalan apa adanya adalah sebuah seni tingkat tinggi? Mengapa harus repot-repot menciptakan lapangan kerja atau menurunkan harga kebutuhan pokok jika rakyat sudah terbukti memiliki daya tahan yang luar biasa dalam memendam harapan?
Visi-misi yang dulu digembar-gemborkan di podium-podium, kini telah menjelma menjadi artefak sejarah yang indah untuk dikenang. Janji tentang transformasi ekonomi dan kesejahteraan rakyat nampaknya sedang menjalani masa inkubasi yang panjang.
Kita harus maklum, membangun daerah seluas kabupaten ini tidak semudah mengunggah konten di media sosial atau menebar senyum saat pembagian bantuan sosial atau santunan anak yatim.
Jika dulu janji adalah hutang. Di era sekarang, janji nampaknya menjadi bunga hiasan yang hanya mekar saat musim kampanye tiba.
Kombinasi antara tokoh senior yang matang dan tokoh muda yang energik ternyata menghasilkan harmoni yang unik. Yang senior terlalu hati-hati, yang muda terlalu menikmati posisi. Hasilnya? Sebuah keseimbangan sempurna di mana tidak ada kebijakan yang benar-benar bergerak maju, tetapi juga tidak mundur. Hanya jalan di tempat dengan postur yang tegap.
Sudah saatnya duet ini menyadari bahwa kursi kekuasaan bukan hanya untuk diduduki, melainkan untuk digoyang agar kebijakan-kebijakan mandul segera melahirkan solusi.
Rakyat sudah cukup kenyang dengan janji. Kini, mereka butuh sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar akronim indah. Mereka butuh bukti bahwa perut mereka juga ikut seiya-sekata dengan kesejahteraan yang dijanjikan. (*)
Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id




Discussion about this post