Panyabungan, StartNews Kisah pilu yang dialami Nenek Ana Nasution (72 tahun) dan ketiga cucunya menggugah kepedulian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Mandailing Natal (Madina) bersama PAC Kecamatan Panyabungan Barat.
Setelah melihat kondisi Nenek Ana Nasution yang merawat tiga cucunya yang anak yatim, organisasi pemuda ini langsung memberikan bantuan berupa beras, telur, minyak goreng, mi instan, gula pasir, dan sejumlah uang sebagai tali asih.
Bantuan tersebut langsung diserahkan Ketua GP Ansor Madina Sahnan bersama jajaran pengurus PAC GP Ansor Panyabungan Barat ke rumah Nenek Ana di Lingkungan IV, Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat.
Mendapat bantuan tersebut, Nenek Ana mengucapkan banyak terima kasih. Mudah-mudahan tambah rejekinya dan diberikan kesehatan oleh Allah SWT, kata Nenek Ana.
Kisah pilu Nenek Anak bersama cucunya ini sudah ramai diberitakan media massa. Nenek Ana yang sudah renta mengasuh tiga cucunya yang masih anak-anak: Muhammad Rasyid (7), Fatimah Sari (9), dan Muhammad Rasyid (13). Keluarga ini tinggal di Lorong Beirut, Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Madina.

Ana menceritakan, ketiga cucu yatim piatunya tersebut bersekolah di SD Inpres Kelurahan Longat. Nenek Ana harus membanting tulang demi menghidupi ketiga cucunya yang masih kecil. Bertani hanya itu yang bisa aku lakukan membesarkan ketiga cucu dengan seorang diri, ujarnya.
Tak banyak yang bisa dia lakukan ketika menjadi seorang petani di usia senja sepertinya. Pendapatannya yang kecil membuat dirinya tidak mampu memenuhi kebutuhan makan serta kebutuhan perlengkapan sekolah ketiga cucunya.
Bertani seusia saya berapalah hasil yang bisa didapat. Makan dengan garam serta lauk ikan asin kecil, cuma itu yang bisa aku dapatkan. Pensil dan buku serta keperluan sekolah lainnya tak bisa aku penuhi seutuhnya, tambahnya.
Dia merawat ketiga cucu dari anak laki-lakinya dengan ikhlas. Nenek Ana menceritakan, sebelum meninggal, menantu perempuannya terdaftar sebagai keluarga penerima mamfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH).
Bantuan uang tunai (PKH) dalam kurun setahun yang sudah kami terima di dua tahap pencarian ini sebesar Rp 400 ribu dari pendamping, sebutnya.
Sementara bantuan pangan nontunai (BPNT) yang belakangan dicairkan di Kantor Pos Panyabungan hingga hari ini belum sampai ke tangan mereka.
Bantuan pangan non tunai (BPNT) berbentuk sembako, terakhir mereka diarahkan untuk menjemput bantuan tersebut ke Kantor Pos Panyabungan. Cucunya sebagai pewaris utama yang terdaftar di kartu keluarga, berangkat menjemputnya ke sana.
Seharian menunggu di Kantor Pos, dapat kabar dari sana, katanya bantuan sudah dialihkan ke kecamatan. Sementara ditanya di kecamatan tidak ada bantuan sembako tersebut, entah kemana rimbanya.
Kini sang nenek beserta ketiga cucunya harus rela bertahan hidup dengan makan seadanya, di rumah kecil sederhana berukuran 3 × 5 meter berdindingkan kayu berlantai semen. Rumah kecil warisan almarhum orangtua mereka menjadi satu-satunya saksi bisu suka dan duka perjalanan hidup mereka.
Reporter: Sir/Digtara





Discussion about this post