BENCANA alam seringkali menyingkap dua wajah manusia sekaligus: solidaritas yang mengharukan dan keserakahan yang memalukan. Sayangnya, di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), wajah kedua tampaknya sedang mendominasi panggung di tengah krisis kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Ketika akses jalan menuju Tapanuli bagian selatan (Tabagsel) lumpuh total akibat bencana—memutus nadi distribusi dari Pertamina Patra Niaga Sibolga—masyarakat Madina dipaksa masuk dalam situasi sulit. Namun, alih-alih saling bahu-membahu, sekelompok oknum justru memilih ‘menari di atas penderitaan rakyat’.
Viral-nya sebuah angkutan kota (angkot) bernopol BB-1786-RA yang tertangkap kamera menyedot BBM dari tangki mobilnya untuk diecer kembali merupakan puncak gunung es dari bobroknya moralitas di tengah bencana.
Fakta di lapangan sangat menampar rasa kemanusiaan kita. Di saat harga resmi BBM bersubsidi dipatok Rp10.000 per liter, para spekulan dan pedagang dadakan dengan tega membanderol harga hingga Rp40.000, bahkan Rp50.000 per liter. Ini bukan lagi sekadar hukum ekonomi supply and demand. Ini perampokan di siang bolong yang memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat.
Kita mengapresiasi langkah cepat Kapolres Madina AKBP Arie Sofandi Paloh yang langsung membentuk tim khusus dan memerintahkan blacklist terhadap kendaraan yang terbukti curang. Instruksi untuk menempel foto angkot nakal di setiap SPBU merupakan langkah taktis yang baik. Namun, publik menunggu lebih dari sekadar sanksi administratif atau larangan mengisi bensin.
Rakyat menanti pembuktian dari kalimat tegas Kapolres, “Kami kejar sampai dapat.”
Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada supir angkot atau pengecer kecil di pinggir jalan lingkar. Kepolisian harus berani menelusuri rantai pasok ilegal ini. Apakah ada ‘main mata’ antara operator SPBU dengan para penimbun? Mengapa aktivitas ilegal ini bisa terjadi terang-terangan di area SPBU? Tanpa keterlibatan orang dalam, mustahil praktik ini bisa berjalan mulus.
Pemerintah Kabupaten Madina telah berupaya keras mengalihkan jalur distribusi dari Dumai dan Sumatera Barat untuk menormalkan pasokan. Namun, usaha keras pemerintah ini akan siasia jika di hilir, mafia-mafia kecil ini dibiarkan menyedot jatah rakyat. BBM yang datang susah payah, justru ditimbun untuk dijual kembali dengan harga mencekik.
Krisis ini ujian bagi nurani warga Madina. Juga ujian bagi nyali aparat penegak hukum. Bagi masyarakat, kita diimbau untuk menjadi ‘mata dan telinga’ polisi. Jangan takut melapor. Bagi aparat, jangan ada toleransi. Seret mereka yang menimbun ke ranah pidana, bukan sekadar teguran.
Bencana alam adalah takdir Tuhan yang harus kita terima dengan sabar. Tetapi, bencana kemanusiaan akibat keserakahan adalah kejahatan yang harus kita lawan dengan tegas. Jangan biarkan segelintir orang kenyang, sementara ribuan warga Madina tercekik. (Saparuddin Siregar)
Akun resmi StartNews.co.id: https://whatsapp.com/channel/0029VaSjNUHGOj9lK6bu4n3J





Discussion about this post