Batahan, StartNews – Di atas perahu yang terombang-ambing pelan di perairan Pelabuhan Balimbungan, Jumat (12/12/2025), senyum itu tetap merekah. Namun, di balik ketegaran wajah Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution, tersimpan sebuah kerinduan sederhana yang tertahan. Pulang ke rumah.Bukan rumah dinas yang megah, melainkan rumah orangtuanya di Kotanopan.
Sudah dua pekan lebih Atika tidak mencium tangan kedua orangtuanya. Padahal, dalam situasi normal, jarak antara rumah dinas dan kampung halamannya hanya terpaut satu jam perjalanan. Namun, panggilan tugas di tengah bencana alam yang melanda Madina memaksanya menepikan ego dan rindu pribadi.
Sejak bencana alam—banjir, tanah longsor, dan angin kencang—menghantam wilayah ini, Atika nyaris tak sempat beristirahat. Bersama Bupati Saipullah Nasution, mereka membagi tugas, menyebar ke pelosok-pelosok desa yang terisolasi untuk memastikan kehadiran negara di tengah duka warga.
“Dua pekan lebih saya belum pulang ke rumah orangtua. Keluh kesah ini bukan karena komplain, tapi kita sebagai manusia biasa. Namun, kami tetap mengutamakan masyarakat yang sangat membutuhkan kehadiran kami di saat musibah,” tutur Atika dengan suara yang bercampur antara lelah dan ketulusan.
Hari itu, tujuannya Desa Pulau Tamang, sebuah wilayah di Kecamatan Batahan yang sempat terputus aksesnya. Perjalanan menuju ke sana bukanlah perkara mudah.
Rombongan Wabup Atika harus berjibaku melewati jalanan berlubang yang tertutup lumpur sisa banjir. Tak hanya membawa diri, mereka memikul amanah berupa bantuan sembako tahap ketiga dan perangkat mesin internet (Starlink) agar komunikasi di desa terisolasi bisa pulih.
Tantangan tak berhenti di darat. Mereka harus melintasi lautan, menantang ombak pantai barat. Bahkan, saat perjalanan pulang dari Kecamatan Natal menuju Panyabungan, langit seolah ikut menangis. Hujan deras mengguyur rombongan dari Kecamatan Linggabayu hingga Panyabungan Selatan.
Dari Kelurahan Muarasoma hingga Tanobato, kewaspadaan harus dilipatgandakan. Jalanan yang terendam banjir membawa material lumpur dan batu. Sementara tebing-tebing di sisi jalan mengancam bisa longsor sewaktu-waktu.
Meski lelah fisik mendera, ada rasa syukur yang terucap dari bibir Atika. “Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.
Meski demikian, kerusakan fasilitas umum, lahan pertanian, dan rumah warga menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang telah dia usulkan ke pemerintah pusat untuk segera diperbaiki.
Di tengah guncangan perahu menuju Pulau Tamang, Atika mengajarkan satu hal bahwa pengabdian seringkali berarti menunda keinginan hati sendiri. Rindu pada orangtua di Kotanopan mungkin masih harus ditahan sebentar lagi demi memastikan asap dapur warga terdampak bencana tetap mengepul dan senyum mereka kembali hadir.
Reporter: Agus Hasibuan





Discussion about this post