• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, Mei 15, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Lagu Lama di Paripurna, Ketika Rekomendasi Cuma Jadi Pajangan

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

by Redaksi
Rabu, 6 Mei 2026
0 0
0
Lagu Lama di Paripurna, Ketika Rekomendasi Cuma Jadi Pajangan

Ilustrasi.

ADVERTISEMENT

SEPERTINYA kalender di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) memang bergerak lebih lambat daripada daerah lain. Atau mungkin kita memang senang terjebak dalam lingkaran nostalgia yang itu-itu saja. Hari Senin (4/5/2026) lalu, gedung DPRD Madina kembali riuh dengan agenda rutin tahunan, apalagi kalau bukan urusan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban alias LKPj Bupati tahun 2025.

Ada sebelas poin rekomendasi yang dilemparkan para wakil rakyat kita ke meja pemerintah daerah. Kedengarannya memang gagah, penuh evaluasi, dan seolah-olah menunjukkan kerja keras Panitia Khusus yang sudah berminggu-minggu memeras otak. Tapi, kalau kita baca pelan-pelan isi rekomendasinya, kok rasanya seperti sedang membaca daftar keluhan yang sama dari lima atau sepuluh tahun yang lalu, ya?

Mari kita tengok urusan RSUD Panyabungan yang jadi sorotan utama. Ketua Pansus dengan gagah meminta perbaikan soal profesionalisme medis, parkir, sampai urusan air bersih dan kebersihan. Lucu sekali, di tahun 2026 ini, kita masih harus diingatkan melalui sidang paripurna yang formal hanya untuk urusan air bersih di rumah sakit. Ini kan kebutuhan dasar, bukan proyek teknologi canggih yang butuh riset puluhan tahun.

Masa iya, untuk memastikan pasien bisa mandi dan lingkungan rumah sakit nggak jorok saja harus menunggu instruksi dari dewan dalam bentuk poin rekomendasi resmi? Ini sebenarnya kritik untuk pemerintah atau sedang menunjukkan betapa lambannya manajemen pelayanan publik kita yang urusan keran air macet saja harus masuk dalam catatan sejarah daerah?

Belum lagi urusan sampah dan TPA Banggua yang sepertinya sudah jadi legenda di Panyabungan Barat. Kita selalu bicara soal sistem terpadu dan pengelolaan moderen, tapi praktiknya di lapangan tetap begitu-begitu saja. Begitu juga soal Dana Bagi Hasil sawit dan pasar tradisional. Rekomendasinya selalu manis: optimalkan, sesuaikan, tata ulang.

Kata-kata “optimalkan” ini memang paling sakti kalau bingung mau bikin saran apa, karena bisa dipakai sampai kiamat tanpa ada indikator jelas kapan sebenarnya sesuatu itu sudah dianggap optimal. Kalau setiap tahun bahasanya cuma optimalkan tanpa ada perubahan nyata di lapangan, ya jangan-jangan kita cuma sedang latihan merangkai kata, bukan sedang membangun daerah.

Hal yang paling ambisius tentu saja soal belanja pegawai yang diminta turun jadi 30 persen di tahun 2027 sesuai mandat undang-undang. Ini tantangan besar atau sekadar formalitas pengingat biar nggak kena semprit pusat?

Mengurangi belanja pegawai itu artinya harus berani memangkas atau efisiensi. Bukan cuma rajin mutasi sana-sini dengan dalih sistem merit yang entah sudah murni atau masih pakai perasaan. Kita tahu sendiri bagaimana birokrasi bekerja. Jadi, janji untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap OPD itu terdengar seperti janji manis saat kampanye yang biasanya layu sebelum berkembang.

Respon Wakil Bupati Atika Azmi Utammi juga sangat standar, khas pejabat yang paham betul cara main di depan podium. Katanya, semua catatan itu bukan formalitas, tapi fondasi penting untuk strategi pembangunan.

Kita apresiasi sikap rendah hati pemerintah yang mau menerima kritikan. Tapi, masyarakat tentu bosan kalau setiap tahun cuma disuguhi aksi saling puji dan saling terima kasih di ruang siding. Sementara jalan menuju pantai barat atau akses ke Muara Batang Gadis masih begitu-begitu saja.

Jangan sampai sebelas poin sakti ini nasibnya berakhir di tumpukan berkas yang berdebu di laci kantor dinas. Lalu, tahun depan kita kumpul lagi di ruangan yang sama untuk membahas air bersih, sampah, dan jalan rusak yang sama lagi.

Rakyat butuh bukti, bukan sekadar sebelas poin rekomendasi yang indah di atas kertas, tapi ompong di lapangan. (*)

Tags: DPRD MadinaKritik SosialLKPj Madinamandailing natalPelayanan PublikRSUD PanyabunganSikap Redaksi
ShareTweet
Next Post
HUT ke-76 Satpol PP, Bupati Madina Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Media Sosial

HUT ke-76 Satpol PP, Bupati Madina Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Media Sosial

Discussion about this post

Recommended

Jaga Tanah Adat, Kombes Pol. Parluatan Siregar Dikukuhkan sebagai Ketua Adat Tabagsel

Jaga Tanah Adat, Kombes Pol. Parluatan Siregar Dikukuhkan sebagai Ketua Adat Tabagsel

4 tahun ago
Cegah Kebocoran Retribusi Parkir, Pemko Padang Gunakan Transaksi QRIS

Cegah Kebocoran Retribusi Parkir, Pemko Padang Gunakan Transaksi QRIS

4 tahun ago

Popular News

  • Lion Air akan Buka Penerbangan Rute Medan-Madina dan Madina-Padang

    Lion Air akan Buka Penerbangan Rute Medan-Madina dan Madina-Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dr. Mara Samin Lubis Dilantik Jadi Ketua STAIN Madina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Miris…! Keponakan Terpaksa Pindahkan Makam Paman-Bibiknya Demi Akhiri Konflik Warisan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sakti Matondang Klarifikasi Fakta Pembongkaran Makam Pasutri di Madina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Salah Perencanaan Anggaran, Tukin dan Serdos STAIN Madina Terancam Tak Cair 9 Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026