MENDENGAR kabar ada anak desa yang berhasil lulus ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, rasanya campur aduk. Bangga sudah pasti. Tapi di sisi lain ada rasa miris ketika tahu langkah Asmaul Husna, gadis penghafal Al-Qur’an dari Desa Patialo, Kecamatan Kotanopan, nyaris terhenti di tengah jalan hanya karena urusan ongkos.
Bagi keluarga petani seperti orangtua Husna, biaya tiket penerbangan lintas benua jelas bukan angka yang kecil, bahkan mungkin terasa seperti dinding tebal yang tidak bisa ditembus.
Di sinilah kita perlu angkat topi dan memberi apresiasi yang tulus kepada Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution. Kehadiran beliau langsung ke rumah Husna pada Senin (22/6/2026) lalu bukan sekadar kunjungan seremonial atau pencitraan belaka.
Sang bupati rela menempuh jalan sempit dan menanjak ekstrem sejauh 4 kilometer di pedesaan, langsung setelah lelah menempuh perjalanan dinas dari luar kota. Ini bukan cuma soal seberapa kuat fisik seorang kepala daerah blusukan, tapi lebih kepada soal hati dan kepekaan seorang pemimpin yang menolak melihat putri terbaik daerahnya gagal meraih masa depan.
Sikap tanggap Bupati Saipullah menunjukkan bahwa birokrasi yang selama ini sering dinilai kaku, ternyata bisa sangat fleksibel jika dilandasi niat baik. Kita semua paham, anggaran resmi beasiswa Pemkab Madina saat ini baru bisa dialokasikan untuk kampus di dalam negeri. Kalau pemerintah daerah hanya mau cari aman dan berpatokan kaku pada aturan itu saja, mimpi Husna dipastikan kandas.
Namun, bupati mengambil langkah cerdas lewat sebuah diskresi. Beliau mengajak seluruh jajaran Kepala Dinas dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bergotong-royong menutupi kekurangan biaya tersebut lewat penggalangan donasi internal.
Keputusan untuk pasang badan ini bukti nyata bahwa pemerintah daerah benar-benar hadir memeluk warganya yang sedang kesulitan. Saipullah memberikan jaminan langsung di hadapan Husna dan keluarganya, sebuah kepastian yang seketika menghapus air mata keputusasaan.
Tentu saja, apresiasi ini tidak berdiri sendiri. Kita juga wajib memberi penghormatan kepada kawan-kawan dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kotanopan dan rekan-rekan wartawan di Forum Jurnalis Mandailing Julu (FJ MAJU) yang lebih dulu menggalang donasi.
Sinergi yang erat antara pemerintah daerah, insan pers yang menjalankan fungsi sosialnya dengan empati, dan elemen masyarakat inilah yang menjadi kekuatan sejati Madina. Sikap saling peduli ini sejalan dengan muruah Undang-Undang Pokok Pers dan Kode Etik Jurnalistik, di mana pers tidak hanya hadir untuk menyajikan fakta secara berimbang, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan membawa dampak positif bagi nilai-nilai kemanusiaan.
Kisah Asmaul Husna dari pelosok Patialo ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Keterbatasan ekonomi sama sekali tidak boleh menjadi vonis mati bagi sebuah cita-cita besar. Dengan pemimpin yang peka seperti Bupati Saipullah, birokrasi yang mau berinovasi mencari jalan keluar, serta semangat gotong-royong masyarakat yang masih menyala terang, segala rintangan pasti bisa diterobos.
Selamat bersiap menuju Kairo, Asmaul Husna. Jadikan jalan terjal menuju Patialo dan besarnya dukungan dari bupati beserta masyarakat Madina sebagai bahan bakar semangatmu saat menuntut ilmu di sana.
Kelak, pulanglah membawa cahaya ilmu bagi agama, bangsa, dan kemajuan kampung halaman. Untuk Pemkab Madina, semoga kepedulian yang sangat manusiawi seperti ini terus menjadi napas dalam setiap kebijakan pada masa depan. (*)





Discussion about this post