Gema tarawih di Mandailing Natal (Madina) selalu memanggil para perantau pulang. Temukan kisah haru tentang tradisi merantau dan kerinduan mendalam pada suasana Ramadan di Madina.
Jakarta, StartNews – Bagi orang Mandailing, merantau bukan sekadar pergi mencari penghidupan. Ia sebuah fase pendewasaan, sebuah perjalanan untuk menjemput nasib yang sudah mendarah daging sejak zaman nenek moyang. Namun, sehebat apapun seseorang menaklukkan rimba beton di Jakarta atau Medan, ada satu musim yang selalu mampu meruntuhkan benteng pertahanan kerinduan itu, yakni Ramadan.
Di antara hiruk-pikuk kota besar, ada frekuensi tersembunyi yang selalu dicari oleh telinga para perantau Mandailing Natal (Madina) — frekuensi gema tarawih dari kampung halaman.
Suasana Ramadan di tanah perantauan seringkali terasa terburu-buru. Di kota besar, setelah berbuka dengan sisa kemacetan, orang bergegas ke masjid yang ber-AC dan beralas karpet tebal. Namun, bagi perantau asal Panyabungan, Kotanopan, hingga Natal, ada yang hilang dari kemewahan itu.
Mereka merindukan suara lantunan ayat suci yang khas. Ada logat dan nada khas (irama) imam-imam di Madina yang terasa lebih meresap ke kalbu, seolah membawa hawa sejuk dari perbukitan Bukit Barisan.
Suara langkah kaki para jamaah di atas lantai masjid kayu yang berderit, juga menciptakan harmoni alami yang tak bisa ditemukan di masjid beton perkotaan. Suasana riuh-rendah anak-anak di pelataran masjid setelah salat witir, yang di Madina terasa seperti sebuah pesta rakyat kecil-kecilan.
“Sejauh-jauhnya kaki melangkah, telinga ini selalu tertinggal di masjid kampung. Suara mik yang sedikit pecah namun jujur, dan sapaan ‘Apa kabar’ dalam bahasa Mandailing setelah salam, adalah kemewahan yang tak terbeli.”
Kerinduan ini bukan sekadar soal ibadah, tapi soal identitas. Di tanah rantau, seorang perantau mungkin makan kurma yang sama. Namun, rasanya beda tanpa kehadiran Toge Panyabungan asli atau aroma marpangir yang masih membekas di kulit saat malam pertama tarawih.
Di Madina, tarawih menjadi perekat sosial. Di sana, tidak ada orang asing. Setiap orang yang berdiri di samping Anda adalah kerabat, tetangga, atau setidaknya seseorang yang mengenal kakek-nenek Anda. Kehangatan komunal inilah yang membuat dinding-dinding apartemen atau kontrakan di perantauan terasa lebih dingin saat bulan puasa tiba.
Pada akhirnya, gema tarawih yang terdengar sayu di ingatan itulah yang menjadi bahan bakar utama untuk bertahan hingga hari kemenangan tiba. Tradisi merantau mengajarkan orang Mandailing untuk Tangguh. Namun, tradisi pulang (mudik) mengajarkan mereka untuk tetap membumi dan ingat pada asal-usul.
Bagi mereka yang tahun ini belum bisa pulang, setiap sujud di rakaat terakhir tarawih di perantauan selalu terselip doa yang sama. Semoga tahun depan, dahi ini bisa kembali bersujud di tanah kelahiran, di bawah naungan langit Mandailing yang teduh. (Sir)
#Mandailing #MandailingNatal #Madina #Panyabungan #Kotanopan #Natal #SumateraUtara #NorthSumatra #MandailingMudik #AnakRantauMadina





Discussion about this post