Panyabungan, StartNews – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution memaparkan kondisi wilayah, potensi unggulan, serta arah pembangunan daerah di hadapan Bupati Pasaman Barat H. Yulianto saat kunjungan kerja dan silaturrahmi, di Pendopo Rumah Dinas Bupati Madina, Panyabungan, Selasa (27/1/2026).
Saipullah menjelaskan, Madina memiliki luas wilayah sekitar 6.600 kilometer persegi yang terdiri dari 23 kecamatan, 377 desa, dan 27 kelurahan, dengan jumlah penduduk kurang lebih 505 ribu jiwa.
Pada kesempatan itu, Saipullah juga menyampaikan sektor pertanian dan perkebunan masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Komoditas utama yang dikembangkan meliputi padi, jagung, ubi, palawija, serta perkebunan rakyat seperti kopi Mandailing, kelapa dalam, dan cokelat.
“Kopi Mandailing dikenal sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Namun, kondisi produksi kita belum sebanding dengan permintaan pasar. Kebutuhan ekspor bisa mencapai 100 ton per bulan, sementara realisasi produksi baru sekitar 1 sampai 5 ton,” ungkapnya.
Menurut Saipullah, dari 23 kecamatan yang ada, terdapat lima kecamatan yang sangat potensial untuk pengembangan kopi dengan luasan mencapai 10 hingga 15 ribu hektare, namun belum dikelola secara maksimal.
“Karena itu, pemkab tengah mendorong peningkatan produktivitas dan pengelolaan perkebunan secara berkelanjutan, sejalan dengan program Kementerian Pertanian,” ungkapnya.
Selain membahas potensi ekonomi, Saipullah juga menyoroti pentingnya penataan batas wilayah Madina-Pasaman Barat sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar pengelolaan lahan dan perkebunan lintas daerah dapat memberikan manfaat bersama bagi masyarakat kedua kabupaten.
“Pada prinsipnya, kami sangat terbuka untuk berdiskusi dan membangun kerja sama yang saling menguntungkan, demi kemajuan Madina dan Pasaman Barat, serta berdampak positif bagi Sumatera Utara dan Sumatera Barat,” katanya.
Sementara Bupati Pasaman Barat H. Yulianto menyampaikan pentingnya kerja sama antardaerah, khususnya antara Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Madina.
Dalam pertemuan tersebut, Yulianto menyampaikan sejumlah hal penting kepada Bupati Madina dan masyarakat, mulai dari persoalan tapal batas wilayah yang dinilai penting bagi pemerintahan dan pelayanan masyarakat, hingga kerja sama pembangunan infrastruktur, terutama akses jalan yang menghubungkan langsung kedua daerah.
Yulianto menyoroti persoalan aliran sungai yang berdampak langsung pada persawahan di wilayah Pasaman Barat, tepatnya di Desa Baru.
Dia meminta izin dan dukungan Pemkab Madina untuk penanganan batu besar yang selama puluhan tahun menghambat aliran sungai dan kerap menyebabkan banjir sawah, termasuk rencana normalisasi sungai.
Dalam sektor transportasi, Yulianto menyinggung pentingnya peran pelabuhan sebagai penyangga antardaerah di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, khususnya Pelabuhan Teluk Papang yang menopang Pelabuhan Teluk Bayur.
Menurut dia, konektivitas pelabuhan sangat vital, terutama saat terjadi bencana dalam mengirimkan bantuan logistik.
Yulianto juga menyampaikan adanya kerja sama melalui MoU dengan PLN Padang Sidempuan terkait pasokan listrik bagi ratusan warga, serta menyoroti persoalan kelautan, khususnya praktik penangkapan ikan ilegal seperti penggunaan pukat harimau yang merugikan nelayan dan mengancam keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Yulianto juga mengapresiasi sambutan Pemkab Madina dan berharap silaturahmi serta kerja sama antar-pemerintah dan masyarakat kedua daerah dapat terus terjalin demi kepentingan bersama.
Reporter: Fadli Mustafid





Discussion about this post