• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, Maret 13, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Berkah di Balik Kokok Ayam, Mengubah Limbah Dapur Jadi Protein dan Kebahagiaan

by Redaksi
Senin, 2 Maret 2026
0 0
0
Berkah di Balik Kokok Ayam, Mengubah Limbah Dapur Jadi Protein dan Kebahagiaan
ADVERTISEMENT

Bukittinggi, StartNews – Di sudut Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sebuah gerakan sederhana namun berdampak besar sedang tumbuh dari halaman-halaman rumah warga. Masalah klasik perkotaan seperti tumpukan sampah organik kini menemukan solusi unik melalui aktivitas ternak ayam petelur skala rumahan.

Fenomena itu bukan sekadar hobi, melainkan sebuah siklus keberkahan yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, hingga kesehatan mental masyarakat.

Menurut Romi Hidayat, seorang praktisi yang konsen pada isu ini, rumah tangga sebenarnya pusat produksi sampah organik terbesar di kota. Data penelitian dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Andalas tahun 2025 menunjukkan angka yang mencengangkan. Sampah sisa makanan atau organik di Kota Bukittinggi mencapai 82,75 persen.

Romi meyakini angka tersebut bisa ditekan secara drastis jika masyarakat mau mengubah pola pikir mereka terhadap sampah dapur.

“Rumah adalah titik awal sekaligus kunci. Dengan memelihara ayam di rumah sendiri, sampah organik yang tadinya hanya menumpuk dan berbau bisa habis seketika dan berubah menjadi kompos. Sampah itu bisa dijadikan pakan tambahan bagi ayam, sementara sisa-sisanya bercampur dengan alas kandang yang nantinya menjadi pupuk organik bermutu tinggi,” ujar Romi Hidayat saat menjelaskan manfaat ganda dari sistem ini.

Visi Romi melampaui pagar rumahnya sendiri. Dia membayangkan sebuah kota yang mandiri dalam pengelolaan limbah jika setiap RT, kelurahan, atau dusun mampu mengolah sampah organiknya secara kolektif melalui peternakan rakyat.

Menurut dia, hilir dari gerakan ini adalah efisiensi anggaran daerah karena pemerintah kota tidak perlu lagi menyiapkan lahan TPA yang luas khusus untuk sampah organik. Sebab, masyarakat sudah menyelesaikannya langsung dari sumbernya.

Selain dampak lingkungan, kemandirian pangan menjadi bonus yang nyata dirasakan oleh keluarga. Romi mengatakan stok telur di rumah akan selalu tersedia setiap hari, sehingga warga tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari pasar atau kios.

Ayam petelur yang dirawat dengan baik rata-rata mampu berproduksi setiap hari, memastikan kebutuhan protein keluarga tercukupi dengan kualitas yang jauh lebih segar.

“Nah, ini juga penting, pemenuhan protein di rumah akan selalu terjaga, minimal dengan konsumsi telur sendiri. Bahkan jika produksi telur melebihi konsumsi harian keluarga, kelebihannya bisa dijual ke tetangga sekitar. Ini jelas menjadi penghasilan tambahan yang lumayan untuk membantu dapur tetap ngebul,” tambah Romi dengan antusias.

Namun, di atas hitung-hitungan ekonomi dan lingkungan, Romi menyoroti aspek psikologis yang sering kali terlupakan. Memelihara ayam memberikan kepuasan batin tersendiri bagi pemiliknya. Ada rasa bahagia yang muncul saat melihat pertumbuhan ayam-ayam tersebut dari kecil hingga mulai berproduksi. Tingkat kebahagiaan warga bisa meningkat hanya dengan interaksi sederhana bersama hewan ternak mereka.

Menutup perbincangannya, Romi tertawa kecil mengingat keriuhan yang terjadi di kandang setiap pagi. Dengan gaya bicara khas yang akrab, dia menggambarkan bagaimana kehadiran ayam-ayam tersebut membawa suasana baru di rumah.

“Kata orang Medan, recok kali mereka, banyak kali kuahnya. Tapi justru itulah seninya. Suasana rumah jadi lebih hidup, hati jadi senang, dan yang paling penting, berkah itu mengalir dari halaman rumah kita sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Romi H.

Tags: AyamLimbahProteinTrlur
ShareTweet
Next Post
Polda Sumut Sita Dua Ekskavator Tambang Emas Ilegal di Siabu

Polda Sumut Sita Dua Ekskavator Tambang Emas Ilegal di Siabu

Discussion about this post

Recommended

Mengenal Piriformis Syndrome Efek Kelamaan Duduk

Mengenal Piriformis Syndrome Efek Kelamaan Duduk

5 tahun ago
Aek Horsik Meluap, Warga Pidoli Diminta Evakuasi Hewan Ternak

Aek Horsik Meluap, Warga Pidoli Diminta Evakuasi Hewan Ternak

2 tahun ago

Popular News

  • HUT Ke-27 Madina, Bupati Soroti 1.200 Km Jalan Rusak dan Isu Mundurnya 6 Kepala OPD

    HUT Ke-27 Madina, Bupati Soroti 1.200 Km Jalan Rusak dan Isu Mundurnya 6 Kepala OPD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Besok Kabupaten Madina Berusia 27 Tahun, Ini Agenda Peringatannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • MARPOKAT Desak Pemkab Madina Legalkan Tambang Rakyat Demi Kepastian Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof. Sumper Mulia Harahap Dilantik sebagai Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Tembak Pria Asal Madina yang Membunuh Lansia di Angkola Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025