Panyabungan, StartNews – Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa Mandailing Natal (PKB Madina) Khoiruddin Faslah Siregar menanggapi dengan santai kelakar Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utami Nasution yang mengajaknya berpindah ke Partai Gerindra.
Candaan tersebut sebelumnya terlontar dari Atika Azmi pada acara pisah sambut Kapolres Madina di Pendopo Rumah Dinas Bupati, belum lama ini. Saat itu, Atika menyebut kemungkinan Faslah bergabung ke Gerindra. Namun, dia segera menimpali dengan kalimat, “Tapi saya tidak tahu, darahnya ini terlalu hijau,” merujuk pada identitas kuat PKB.
Menanggapi hal tersebut, Faslah menilai pernyataan itu merupakan bagian dari seni komunikasi politik yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. Meski politik bersifat dinamis, Faslah menegaskan ideologi adalah kompas utamanya dalam melangkah.
“Namanya juga guyonan, ya tetap guyonan. Namun dalam politik, candaan sering kali mengandung makna serius. Meski begitu, pindah partai itu tidak semudah itu, karena ada batasan ideologi yang menjadi pedoman saya berjuang,” ujar Faslah saat diwawancarai, Jumat (23/1/2026).
Faslah melihat kelakar tersebut muncul sebagai bentuk apresiasi Wakil Bupati terhadap sosoknya, terutama setelah dirinya menyatakan tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai Ketua DPC PKB Madina.
Sebagai salah satu partai pengusung pada Pilkada 2024, Faslah menegaskan hubungan antara PKB Madina dan Wakil Bupati Atika Azmi tetap solid dan harmonis. Menurut dia, kedekatan emosional sudah terbangun jauh sebelum Atika terjun ke dunia politik.
“Komunikasi kami sangat terbuka. Banyak saran dan rekomendasi program pembangunan dari partai yang diakomodir oleh pemerintah daerah. Secara personal maupun kelembagaan, hubungan kami sangat baik,” tambahnya.
Terkait keputusannya untuk tidak lagi memimpin PKB Madina, Faslah menekankan pentingnya regenerasi partai. Dia ingin memberikan ruang bagi kader muda untuk tampil di struktur kepemimpinan.
Meski nantinya tidak berada di struktur resmi partai, Faslah memastikan akan tetap aktif menyuarakan aspirasi masyarakat. Saat disinggung mengenai kemungkinan berpindah “kendaraan” politik pada masa depan, dia kembali menegaskan kesetiaannya pada nilai-nilai PKB.
“PKB memiliki ideologi menghargai keberagaman dan rahmatan lil alamin. Itu nilai yang saya yakini. Bagaimana kedepannya, kita lihat saja dinamika menuju 2029 nanti,” pungkasnya.
Reporter: Fadli Mustafid





Discussion about this post