Menjelang HUT ke-81 RI, kawasan Jalinsum Panyabungan dihiasi lautan merah putih. Simak kisah Abdul Haris, pedagang musiman asal Bandung yang menemukan kehangatan persaudaraan di tanah Mandailing.
Panyabungan, StartNews – Semarak peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia mulai mengubah wajah Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) kawasan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), menjadi lautan merah putih. Berbagai atribut kemerdekaan, mulai dari bendera, umbul-umbul, banner, background, hingga layar beraneka ukuran dan motif, kini membentang rapi di sepanjang tepi jalan raya untuk menyambut masyarakat yang antusias merayakan hari bersejarah bangsa.
Kain-kain dengan dominasi warna kebanggaan Indonesia itu berkibar ditiup angin kendaraan yang melintas. Namun, di balik deretan kemegahan atribut itu, terselip kisah kesetiaan dan perjuangan lintas budaya dari para pedagang musiman yang rela datang dari jauh demi mengais rezeki.
Salah satu potret perjuangan itu datang dari Abdul Haris, pria yang merantau dari Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Alih-alih meramaikan pasar di kampung halamannya, dia justru memantapkan hati membuka lapaknya di kawasan Aek Lapan, Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan.
Bagi Haris, Madina bukan sekadar tempat singgah sesaat untuk mencari cuan, melainkan ladang rezeki yang telah dia tekuni dengan penuh kesetiaan selama tujuh tahun berturut-turut setiap menjelang perayaan 17 Agustus.
Di lapak sederhananya, Haris menata setiap helai bendera agar menarik perhatian warga. “Harga bendera dan atribut berbeda-beda, tergantung jenis dan ukurannya. Jadi, pembeli bisa memilih sesuai kebutuhan,” kata Abdul Haris, Kamis (30/7/2026).
Kendati tetap tersenyum ramah saat melayani setiap warga yang singgah, Haris harus menghadapi tantangan realitas ekonomi saat ini. Dia tak menampik bahwa daya beli masyarakat terasa lebih lesu dibandingkan hiruk-pikuk perayaan pada tahun-tahun sebelumnya.
Harapan untuk segera meraup keuntungan maksimal di awal musim berjualan ini harus sedikit tertahan oleh perputaran roda ekonomi yang sedang melambat.
“Kalau dibanding tahun lalu memang ada penurunan. Biasanya dalam sehari itu bisa Rp500 ribu. Ini belum ramai penghasilan juga tidak menentu, mudah-mudahan mendekati 17 Agustus pembeli semakin ramai,” ungkapnya.
Pria tangguh ini berencana terus menggelar lapaknya di pinggiran jalan hingga tanggal 16 Agustus 2026. Tepat sehari sebelum detik-detik proklamasi dikumandangkan, dia baru akan melipat sisa dagangannya dan menempuh perjalanan pulang untuk kembali berkumpul bersama keluarga di Bandung.
Lalu, apa yang membuat Haris selalu kembali ke Panyabungan selama tujuh tahun terakhir meski omzet yang didapat tak selalu stabil?
Jawabannya ternyata melampaui sekadar urusan materi. Ada ikatan batin dengan lingkungan dan masyarakat setempat yang telah menyambutnya bagai keluarga sendiri. “Orang-orang di sini baik, ramah. Makanannya juga enak, jadi betah berjualan di Madina,” ujarnya.
Pernyataan tulus dari pria Sunda di tanah Mandailing ini menjadi cerminan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di bawah bayang-bayang kibaran bendera merah putih yang dia jual, terjalin sebuah harmoni persaudaraan lintas budaya yang sesungguhnya menjadi ruh dan makna terdalam dari kemerdekaan bangsa ini.
Reporter: Fadli Mustafid




Discussion about this post