BPBD Tanah Datar dan Satgas Bencana memantau hulu Aia Kalek Gunung Marapi lewat udara untuk mengantisipasi galodo. Aliran sungai lancar, tetapi ancaman titik longsor kian meluas.
Tanah Datar, StartNews — Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Datar bersama Satuan Tugas Bencana Nagari Aia Angek menerbangkan pesawat nirawak (drone) hingga ke area Kawah Verbeek Gunung Marapi guna mengantisipasi potensi banjir bandang atau galodo.
Pemantauan udara itu difokuskan pada pemetaan titik longsoran di sepanjang hulu Sungai Aia Kalek serta pemeriksaan kondisi visual kawah yang beberapa tahun belakangan aktif mengeluarkan material vulkanik.
Pengamatan dari udara itu penting untuk mendeteksi dini keberadaan bendungan alam yang terbentuk dari akumulasi material batu, tanah, pasir, maupun tumpukan kayu akibat longsoran dinding gunung. Tumpukan material yang menyumbat aliran air di bagian atas gunung kerap menjadi pemicu bencana galodo ketika sumbatan tersebut jebol akibat terpaan debit air hujan yang tinggi.
Berdasarkan hasil analisis rekaman visual drone, seperti dirilis BPBD Tanah Datar di laman facebook-nya yang dilihat pada Senin (27/7/2026), tim tidak menemukan adanya pembentukan bendungan alam di sepanjang aliran hulu. Aliran air Sungai Aia Kalek terpantau bergerak lancar menuju area hilir.
Meski demikian, tim mencatat kemunculan sejumlah titik longsor baru yang kian meluas di area bawah cadas Gunung Marapi. Kondisi ini mempertinggi tingkat kerentanan lereng jika diguyur hujan deras.
Sementara pengamatan visual hingga ke wilayah bibir Kawah Verbeek menunjukkan tidak ada perubahan bentuk yang signifikan pada struktur dinding mahkota kawah.
Mengingat peran vital Sungai Aia Kalek yang melintasi jalur utama penghubung Bukittinggi dan Padang—khususnya di kawasan Kelok Hantu, Nagari Aia Angek—sebelum bermuara ke Lembah Anai, pemantauan berkala menjadi prosedur yang tidak bisa ditawar. Luapan aliran sungai ini tercatat berulang kali merusak pondasi jalan nasional yang menjadi urat nadi perekonomian Sumatera Barat.
Kerentanan kawasan ini kian meningkat mengingat infrastruktur peringatan dini atau Early Warning System (EWS) berupa sensor ketinggian air dan sirine yang terpasang di hilir sungai sempat hanyut diterjang galodo saat bencana hidrometeorologi melanda pada akhir 2025.
Kepala BPBD mengimbau seluruh lapisan masyarakat yang bermukim maupun beraktivitas di sekitar bantaran sungai yang berhulu di Gunung Marapi untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
“Kami meminta warga segera menjauhi dan mengosongkan area aliran sungai apabila mengamati cuaca buruk atau intensitas hujan mulai tinggi di bagian puncak Gunung Marapi, guna menghindari risiko ancaman banjir susulan,” ujarnya.
Reporter: Sir





Discussion about this post