Profil H. Fahrizal Efendi Nasution, SH, MAP, tokoh senior yang masuk bursa calon Ketua IKANAS Madina dengan membawa visi penguatan budaya Mandailing dan semangat Marsialapari.
Panyabungan, StartNews – Nama H. Fahrizal Efendi Nasution, SH, MAP, masuk dalam radar kuat bursa calon Ketua DPC Khusus Ikatan Keluarga Nasution dan Anakboru (IKANAS) Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Kehadiran mantan anggota DPRD Sumatera Utara dua periode ini dinilai banyak pihak menjadi jawaban atas kebutuhan figur pemersatu yang mampu merangkul seluruh potensi kultural warga Mandailing, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan.
Rekam jejak pria bergelar Sutan Kumala Bongsu Lenggang Alam ini memang terbentang panjang di ruang publik.
Mengawali kiprahnya sebagai Komisioner KPU Madina periode 2005–2009, Fahrizal kemudian melanjutkan pengabdiannya di jalur legislatif sebagai Anggota DPRD Madina periode 2009–2014, sebelum akhirnya naik ke tingkat provinsi di DPRD Sumatera Utara selama dua dekade berturut-turut sejak 2014 hingga 2024. Ia juga pernah memimpin DPC Partai Hanura Madina.
Pengalaman panjang di dunia politik dan birokrasi inilah yang membentuk perspektif kepemimpinannya yang inklusif dan terbuka. Bagi Fahrizal, mengelola organisasi kekeluargaan berbasis daerah memiliki seni tersendiri yang jauh berbeda dengan mengelola institusi politik atau bisnis.
“Organisasi paguyuban seperti IKANAS tidak bisa digerakkan dengan tangan besi atau sekat birokrasi yang kaku. Kekuatan utamanya justru terletak pada kelenturan komunikasi dan kemampuan kita untuk membangun jembatan sosial di antara berbagai kelompok masyarakat,” ujar Fahrizal saat berdiskusi mengenai masa depan organisasi tersebut.
Menghadapi tantangan kepengurusan kedepan, Fahrizal menawarkan visi besar yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur tradisi lokal, yaitu Marsialapari Pagodang Kahanggi dohot Anakboru.
Konsep itu bukan sekadar slogan, melainkan manifestasi gotong-royong khas Mandailing dimana kelompok kahanggi (kerabat semarga) dan anakboru (penerima boru) saling menguatkan, bukan saling membedakan.
Menurut Fahrizal, kebersamaan kultural ini harus menjadi fondasi utama dalam menggerakkan roda IKANAS Madina. Dengan menyatukan kedua unsur adat tersebut, harmoni sosial dapat tercipta secara alami dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.
“Falsafah Marsialapari mengajarkan kita bahwa kemajuan besar hanya bisa dicapai kalau kita melangkah bersama-sama. Jika kahanggi dan anakboru bisa berjalan seiring dan seirama, maka harmoni bukan lagi sekadar harapan di atas kertas, melainkan kenyataan yang bisa kita wujudkan bersama untuk kemaslahatan Mandailing Natal,” tegasnya.
Tantangan kontemporer seperti menjembatani jurang generasi antara tokoh senior yang sarat pengalaman dan generasi muda yang adaptif terhadap teknologi digital juga menjadi fokus perhatiannya.
Fahrizal yang dikenal memiliki gaya komunikasi yang cair diyakini mampu menjadi titik temu yang merekatkan potensi lintas generasi tersebut, sekaligus menjadikan IKANAS Madina sebagai rumah bersama yang nyaman untuk merawat silaturahmi, mengembangkan kolaborasi ekonomi, dan mengabdi pada kampung halaman.
Reporter: Rls/Sir




Discussion about this post