PERNAHKAH kita mendengar cerita tentang mimpi besar yang terancam kandas hanya karena urusan ongkos? Nah, cerita pilu ini sedang terjadi di depan mata kita. Asmaul Husna, seorang gadis penghafal Al-Qur’an (hafizah) asal Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), baru saja mengukir prestasi yang luar biasa.
Bayangkan, dia berhasil menembus ketatnya seleksi untuk kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir! Sebuah kampus Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.
Namun, rasa bangga atas kelulusan itu kini harus berkejaran dengan realita hidup yang pelik. Asmaul Husna butuh biaya transportasi lintas benua yang jumlahnya tidak sedikit. Sementara kedua orangtuanya yang sehari-hari memeras keringat sebagai petani, jelas belum sanggup menebus tiket penerbangan tersebut. Ketiadaan biaya ini menjelma menjadi tembok tebal yang menghalangi langkahnya.
Syukurnya, empati di tanah kelahiran Asmaul Husna tidak ikut menguap. Semangat gotong-royong di Mandailing Natal ternyata masih menyala terang. Kita patut angkat topi dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kotanopan dan kawan-kawan dari Forum Jurnalis Mandailing Julu (FJ MAJU).
Mereka menolak melihat generasi emas daerahnya layu sebelum berkembang. Mereka berkolaborasi membuka posko penggalangan dana solidaritas mulai Jumat (19/6/2026).
Gerak cepat Camat Kotanopan Enda Mora Lubis yang didampingi Ketua FJ MAJU Munir Lubis ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian itu masih ada. Bagi mereka, Asmaul Husna merupakan aset berharga yang harus dijaga. Inisiatif kebaikan ini patut diacungi jempol, memastikan agar kursi di Al-Azhar itu tidak sampai hangus.
Tapi, di balik gerakan luar biasa dari warga dan jurnalis ini, rasanya ada yang kurang lengkap. Di sinilah kita ingin mengetuk pintu hati para umara—para pemimpin dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina.
Kalau masyarakat, perantau, dan insan pers saja bisa bergerak cepat merogoh kocek untuk membantu, tentu kita sangat berharap Pemkab Madina juga hadir dan ikut turun tangan.
Prestasi Asmaul Husna bukan sekadar kebanggaan keluarga, tapi kebanggaan daerah. Sangat disayangkan jika pemerintah daerah sampai alpa dalam mendukung pendidikan anak berprestasi yang kelak bisa membawa nama harum dan ilmu yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemajuan Madina.
Perhatian dan bantuan langsung dari Pemkab Madina tentu akan menjadi angin segar dan solusi pasti bagi keberangkatan Asmaul Husna. Para pemimpin kita tentu punya banyak cara dan kebijakan untuk mendukung putra-putri daerah yang berprestasi seperti ini.
Sembari menunggu kabar baik dari para petinggi Pemkab Madina, gerakan merajut asa ini masih akan berlangsung selama dua pekan kedepan. Pintu amal terbuka sangat lebar bagi siapa saja yang hatinya tergerak.
Bantuan bisa disalurkan ke rekening sementara BRI 5335 0101 4542 535 atas nama Siti Fatimah Parinduri. Atau, kontribusi juga bisa dititipkan langsung ke meja Ibu Siti Fatimah di Kantor Camat Kotanopan saat jam kerja.
Mari kita buktikan, sebuah kontribusi kecil dari kita—dan tentunya kebijakan pro-pendidikan dari para umara Madina—bisa menjadi kepakan sayap yang menerbangkan mimpi Asmaul Husna ke Kairo. (*)




Discussion about this post