Bukittinggi, StartNews – Di sudut Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sebuah gerakan sederhana namun berdampak besar sedang tumbuh dari halaman-halaman rumah warga. Masalah klasik perkotaan seperti tumpukan sampah organik kini menemukan solusi unik melalui aktivitas ternak ayam petelur skala rumahan.
Fenomena itu bukan sekadar hobi, melainkan sebuah siklus keberkahan yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, hingga kesehatan mental masyarakat.
Menurut Romi Hidayat, seorang praktisi yang konsen pada isu ini, rumah tangga sebenarnya pusat produksi sampah organik terbesar di kota. Data penelitian dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Andalas tahun 2025 menunjukkan angka yang mencengangkan. Sampah sisa makanan atau organik di Kota Bukittinggi mencapai 82,75 persen.

Romi meyakini angka tersebut bisa ditekan secara drastis jika masyarakat mau mengubah pola pikir mereka terhadap sampah dapur.
“Rumah adalah titik awal sekaligus kunci. Dengan memelihara ayam di rumah sendiri, sampah organik yang tadinya hanya menumpuk dan berbau bisa habis seketika dan berubah menjadi kompos. Sampah itu bisa dijadikan pakan tambahan bagi ayam, sementara sisa-sisanya bercampur dengan alas kandang yang nantinya menjadi pupuk organik bermutu tinggi,” ujar Romi Hidayat saat menjelaskan manfaat ganda dari sistem ini.
Visi Romi melampaui pagar rumahnya sendiri. Dia membayangkan sebuah kota yang mandiri dalam pengelolaan limbah jika setiap RT, kelurahan, atau dusun mampu mengolah sampah organiknya secara kolektif melalui peternakan rakyat.
Menurut dia, hilir dari gerakan ini adalah efisiensi anggaran daerah karena pemerintah kota tidak perlu lagi menyiapkan lahan TPA yang luas khusus untuk sampah organik. Sebab, masyarakat sudah menyelesaikannya langsung dari sumbernya.

Selain dampak lingkungan, kemandirian pangan menjadi bonus yang nyata dirasakan oleh keluarga. Romi mengatakan stok telur di rumah akan selalu tersedia setiap hari, sehingga warga tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari pasar atau kios.
Ayam petelur yang dirawat dengan baik rata-rata mampu berproduksi setiap hari, memastikan kebutuhan protein keluarga tercukupi dengan kualitas yang jauh lebih segar.
“Nah, ini juga penting, pemenuhan protein di rumah akan selalu terjaga, minimal dengan konsumsi telur sendiri. Bahkan jika produksi telur melebihi konsumsi harian keluarga, kelebihannya bisa dijual ke tetangga sekitar. Ini jelas menjadi penghasilan tambahan yang lumayan untuk membantu dapur tetap ngebul,” tambah Romi dengan antusias.
Namun, di atas hitung-hitungan ekonomi dan lingkungan, Romi menyoroti aspek psikologis yang sering kali terlupakan. Memelihara ayam memberikan kepuasan batin tersendiri bagi pemiliknya. Ada rasa bahagia yang muncul saat melihat pertumbuhan ayam-ayam tersebut dari kecil hingga mulai berproduksi. Tingkat kebahagiaan warga bisa meningkat hanya dengan interaksi sederhana bersama hewan ternak mereka.
Menutup perbincangannya, Romi tertawa kecil mengingat keriuhan yang terjadi di kandang setiap pagi. Dengan gaya bicara khas yang akrab, dia menggambarkan bagaimana kehadiran ayam-ayam tersebut membawa suasana baru di rumah.
“Kata orang Medan, recok kali mereka, banyak kali kuahnya. Tapi justru itulah seninya. Suasana rumah jadi lebih hidup, hati jadi senang, dan yang paling penting, berkah itu mengalir dari halaman rumah kita sendiri,” pungkasnya.
Reporter: Romi H.





Discussion about this post