• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Kenali Glaukoma, Si Pencuri Penglihatan

JAKARTA

by Redaksi
Rabu, 27 Maret 2024
0 0
0
Kenali Glaukoma, Si Pencuri Penglihatan

Ilustrasi glaukoma. (FOTO: ISTIMEWA)

ADVERTISEMENT

Jakarta, StartNews Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Ditjen P2P Kemenkes menggelar webinar dengan tema global ‘Uniting for Glaucoma-Free World untuk memperingati World Glaucoma Week melalui zoom meeting pada Selasa (26/3/2024).

Webinar itu merupakan salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait glaukoma dan secara teknis meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan agar mengenal lebih jauh tentang glaukoma, skrining glaukoma, dan tata laksana glaukoma.

Direktur P2PTM Dr. Eva Susanti menyampaikan pentingnya pelaksanaan webinar tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara mencegah dan mengendalikan glaukoma agar dunia terbebas dari glaukoma.

Dia juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan mata secara teratur agar glaukoma dapat dideteksi sedini mungkin. Bila ditemukan tanda atau gejala maka dapat ditindaklanjuti dengan pengobatan yang tepat.

Secara ideal sumber daya yang berkualitas harus bebas gangguan panca indera, termasuk bebas dari gangguan penglihatan dan kebutaan. Oleh karena itu, penanggulangan gangguan penglihatan perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari seluruh jajaran pemerintah bersama masyarakat, kata Dr. Eva.

Eva mengatakan glaukoma merupakan penyebab kedua kebutaan di Indonesia setelah katarak. Namun, berbeda dengan katarak, kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki. Angka kejadian glaukoma diperkirakan meningkat seiring peningkatan harapan hidup masyarakat Indonesia.

WHO memperkirakan 57,5 juta orang di seluruh dunia terkena glaukoma. Setidaknya 50 persen orang (penderita glaukoma) di negara maju tidak menyadari menderita glaukoma dan jumlah ini dapat meningkat menjadi 90 persen di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tutur Eva.

Glaukoma merupakan penyakit yang tidak menimbulkan gejala. Itu sebabnya, sosialisasi dan edukasi pada masyarakat yang diikuti dengan deteksi dini penemuan glaukoma sangat penting. Sebab, semakin dini glaukoma ditemukan dan diikuti tindak lanjut yang tepat, penderita akan semakin terhindar dari kebutaan.

Dr. Fifin Luthfia, yang juga menjadi narasumber pada webinar tersebut, menyatakan glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak, baik di seluruh dunia maupun di Indonesia, dan bersifat permanen. Glaukoma menyumbang 12,3 persen dari total kasus kebutaan. Di dunia, dari 39 juta kasus kebutaan, sebanyak 3,2 juta disebabkan glaukoma. Di Indonesia, 4 sampai 5 orang dari 1.000 orang menderita glaukoma.

Ketika kita melakukan upaya-upaya untuk pengobatan atau upaya kuratif itu biasanya tidak akan memperbaiki penglihatan, tetapi hanya mempertahankan kondisi yang saat ini ada, kata Dr. Fifin.

Beberapa faktor risiko glaukoma, kasus glaukoma pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan kasus glaukoma pada ras kulit hitam lebih banyak dibandingkan ras kulit putih. Glaukoma juga merupakan penyakit degeneratif sehingga risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.

Faktor lain yang berperan adalah riwayat glaukoma dalam keluarga, status refraksi seperti miopia dan hipermetropia, serta penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan hipotensi.

Dr. Evelyn, narasumber lainnya, menekankan pentingnya skrining glaukoma sebagai deteksi dini untuk meminimalisir kehilangan fungsi penglihatan. World Glaucoma Week 2024 menganjurkan skrining menggunakan patokan usia, yaitu usia di bawah 40 tahun sebanyak 2-4 tahun sekali, usia 40-60 tahun sebanyak 2-3 tahun sekali, usia lebih dari 60 tahun sebanyak 1-2 tahun sekali.

Tentunya ini hanya patokan karena akan ada faktor risiko, kemudian keluhan, hasil pemeriksaan, tentunya itu akan berbeda-beda setiap pasien, kata Dr. Evelyn.

Glaukoma kronis tidak menimbulkan gejala sehingga berbeda dengan glaukoma akut yang menimbulkan gejala seperti mata merah, nyeri pada mata, pandangan kabur, mual dan muntah, melihat pelangi atau lingkaran cahaya, dan penyempitan lapang pandangan.

Yang khas itu melihat pelangi atau lingkaran cahaya, jadi gambarannya itu pas hujan kita naik mobil kita melihat dari jendela lampu di luar itu di sekitarnya ada gambaran warna-warna pelangi itu yang menjadi ciri khas orang glaukoma pada saat tekanannya tinggi, ungkap Dr. Evelyn.

Dr. Virna Dwi, juga sebagai narasumber, menyampaikan tujuan tata laksana glaukoma, yaitu mempertahankan fungsi penglihatan, menjaga kualitas hidup pasien, mencegah penurunan lapang pandangan, menangani faktor risiko, yaitu tekanan bola mata.

Walaupun kita tahu 80-90% kasus glaukoma di Indonesia faktor risikonya tekanan bola mata tinggi, sehingga memang kita berupaya semaksimal mungkin menurunkan tekanan bola mata dengan sebaik-baiknya, kemudian juga faktor-faktor risiko terkait, kata Dr. Virna.

Dr. Virna juga menyampaikan modalitas tata laksana glaukoma untuk menurunkan tekanan bola mata, yaitu dengan medikamentosa atau obat-obatan, laser, dan pembedahan. Sedangkan neuroproteksi, yaitu dengan, citicoline, ginkgo biloba, memantine, dan vitamin B1.

Tapi, neuroproteksi ini masih dalam penelitian masih ada beberapa penelitian. Namun, penelitian-penelitian yang lain ini seperti vitamin B1, ginkgo biloba, memantine, itu ada tetapi ketika di coba di pasien masih kurang jelas efeknya, kata Dr. Virna.

Reporter: Rls

Tags: GlaukomaKemenkesPenglihatan
ShareTweet
Next Post
BEM Madina Desak Polisi Tangkap Pencuri Kereta di Kantor HMI

BEM Madina Desak Polisi Tangkap Pencuri Kereta di Kantor HMI

Discussion about this post

Recommended

Update Data Percepatan Penanganan Covid-19 Madina per 24 April

Update Data Percepatan Penanganan Covid-19 Madina per 24 April

6 tahun ago
Diduga Gas Beracun Bocor di PT SMGP, 10 Warga Dilarikan ke Rumah Sakit

Makan Korban Lagi, GPI Madina Desak PT SMGP Diusut Tuntas

3 tahun ago

Popular News

  • Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baksos Bakal Warnai HUT ke-5 Komunitas Pecinta Toyota Fortuner Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pletan Berupaya Mengisi 45 Persen Ceruk Pasar Ikan Lele di Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Bagaimana Pencegahan dan Pengendaliannya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025