Bupati Tapsel meresmikan Bendungan Batu Tunggal berbiaya Rp1,2 miliar dari APBD 2026 untuk mengalirkan air ke 200 hektare sawah warga Angkola Timur.
Tapsel, StartNews – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Pemkab Tapsel) mengoperasikan kembali Bendungan Batu Tunggal di Kelurahan Batangtura Sirumambe, Kecamatan Angkola Timur, untuk memulihkan sistem irigasi vital yang sempat lumpuh akibat kerusakan fisik sejak dua tahun lalu.
Proyek revitalisasi bendungan ini dikerjakan secara maraton sejak awal Agustus 2026 hingga rampung pada 14 September 2026. Pemkab Tapsel mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp1,2 miliar untuk mengembalikan fungsi pasokan air bagi lebih dari 200 hektare lahan persawahan.
Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu memimpin prosesi peresmian pada Jumat (25/9/2026). Dalam sambutannya, dia menekankan pembangunan infrastruktur daerah kini difokuskan pada sektor yang memberikan dampak langsung bagi perekonomian rakyat.
“Kalaupun kita membangun infrastruktur, prioritasnya adalah infrastruktur yang mendukung sektor pertanian. Jangan hanya dibangun, tetapi harus dirawat dengan baik sehingga manfaatnya bisa maksimal untuk masyarakat,” kata Gus Irawan.
Berfungsinya kembali bendungan tersebut disambut sukacita oleh para petani yang selama ini kesulitan mengolah lahan. Paringgonan Siregar, warga Batangtura Sirumambe, mengapresiasi respons cepat pemerintah daerah dalam memulihkan sumber mata pencaharian warga.
“Terima kasih kepada Bupati Tapanuli Selatan. Dengan dibangunnya kembali bendungan ini, sawah kami sekarang sudah bisa dialiri air,” tutur Paringgonan.
Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Kabupaten Tapsel Armen Sanusi Harahap. Dia menilai peresmian bendungan ini sebagai bukti keberpihakan pemerintah terhadap aspirasi masyarakat agraris di Angkola Timur.
Sebagai wujud syukur, masyarakat menggelar tradisi tepung tawar (menyantan) dan pemotongan seekor lembu. Selain pemulihan irigasi, momentum peresmian ini dirangkai dengan pelepasan 1.500 benih ikan—terdiri dari ikan jurung, tawes, dan nila—untuk program keberlanjutan ekosistem lubuk larangan.
Reporter: Sir




Discussion about this post