Tambangan, StartNews Warga Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dalam beberapa hari belakangan mengalami keresahan. Sebab warga menemukan jejak yang diduga harimau sumatera tersebar di ladang warga beberapa desa.
Saat ini warga resah tidak berani beraktifitas ke ladang mereka. Padahal masyarakat di kecamatan tersebut mayoritas berpenghasilan dari ladang. Saat ini petani resah dan waswas. Banyak warga tidak berani ke kebun karet terlalu pagi, ujar Nasir, warga Tambangan.
Bahkan, ada warga samasekali tidak berani beraktifitas, sebagian lainnya berangkat ke kebun karet agak siang. Padahal, mangguris (menderes) biasanya pagi-pagi usai salat subuh. Warga waswas karena jejak menunjukkan diduga harimau sumatera dikhawatirkan ke luar dari hutan dan masuk ke perkebunan warga, kata Nasir.
Masyarakat berharap, pemerintah segera bertindak sebelum ada petani atau warga menjadi korban. Bahkan, hilangnya warga Tambangan beberapa bulan lalu dikhawatirkan jadi korban harimau. Ompung Johan dikabarkan hilang tapi sampai sekarang belum juga ditemukan
Camat Tambangan Muslih menuturkan, jejak diduga harimau sumatera pertama ditemukan di Desa Pastapjulu 2 September 2022, di Desa Tambangantonga 27 November 2022. Kemudian, di Desa Panjaringan 7 Desember 2022 dan di Desa Raoraolombang 8 Desember dan di Desa Hutatonga 9 Desember 2022.
Secara langsung, wujud harimau belum pernah ketemu dengan warga, hanya saja di Desa Pastap, warga menemukan bangkai babi hutan diduga sisa santapan harimau, sebutnya.
Pihak kecamatan belum bisa memastikan, apakah korban hilang masih hidup atau tidak. Namun yang pasti belum ada petunjuk hingga hari ini, jelasnya.
Dengan adanya temuan jejak harimau meresahkan warga sekitar, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tambangan menggelar doa bersama di masjid desa masing-masing.
Doa dan zikir bersama sudah dilakukan warga desa sebagai upaya masyarakat untuk dapat terhindar dari marabahaya mengancam, ujar camat.
Pihak Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara sempat turun ke lokasi belum menentukan langkah, apakah memasang kamera pengintai atau perangkap, masih menunggu laporan perkembangan.
Setelah ada laporan pasti penemuan dan aktifitas kemunculan meningkat, baru dipasang kamera pengintai, kata camat.
Reporter: Rls





Discussion about this post