LUKISAN sketsa Batara Lubis (2 Februari 1927 1 Desember 1986). Terakhir menetap di Yogyakarta. Beliau adalah anak dari Raja Djundjungan Lubis, mantan Gubernur Sumatera Utara, dari keluarga Bagas Godang Huta Godang, Ulu Pungkut, Mandailing Natal.
Sketsa ini melukiskan kawasan Bagas Godang Huta Godang di masanya. Selain Bagas Godang, juga ada Sopo Godang, dan rumah tinggal beliau. Beliau satu-satunya pelukis besar Indonesia dan tercatat di Wikipedia. Sayangnya, hingga hari ini tak ada penerusnya yang menjadi pelukis penting dari Mandailing Natal.
Tidak mudah menjadi pelukis sketsa. Ia hanya mengandalkan garis-garis sederhana yang membentuk pola. Dilukis dengan cepat, tanpa detail yang tajam layaknya lukisan naturalis.
Dari beberapa pelukis sketsa yang saya saksikan melukis, termasuk Jenny Mahastuti dari Istana Negara, saya yakin lukisan ini dibuat tidak lebih dari 20 menit. Cepat, tapi citranya dapat. Itu kelebihan sketsa.
Sketsa biasanya digunakan untuk ilustrasi naskah literasi. Sketsa membantu pemahaman pembaca terhadap objek yang diceritakan. Tapi, tentu juga dibuat untuk dipamerkan layaknya lukisan lain.
Guru-guru di sekolah sepatutnya dapat mengajarkan teknik melukis sketsa ini. Baik menggunakan tinta maupun pensil. Kalau pensil, gunakan jenis 4B hingga 8B. Zaman saya anak-anak, untuk penggunaan tinta, saya gunakan tarugi sebagai ganti pena lukis.
Tarugi itu lidi aren yang ujungnya dibuat runcing seperti pena, lalu di bagian tengahnya dibelah agar tinta masuk di sela-sela belahan itu. Tentu ada juga pena celup yang bisa dibeli. Tapi terbatas besaran penampang garisnya. (*)





Discussion about this post