MALAM pisah sambut Kapolres Mandailing Natal (Madina) yang seharusnya menjadi seremoni formal birokrasi, mendadak berubah menjadi panggung diplomasi politik yang cair, tetapi sarat makna. Aksi saling goda antara Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution dan tokoh senior PKB, Khoiruddin Faslah Siregar, bukan sekadar bumbu penyedap acara.
Ia menjadi cermin pergeseran loyalitas, pragmatisme Pemilu, serta strategi regenerasi partai di tingkat daerah yang sangat dinamis.
Daya tarik utama dari narasi ini terletak pada pengakuan jujur Faslah Siregar mengenai perjalanan karier politiknya. Dia dikenal sebagai seorang Kingmaker atau arsitek di balik kemenangan empat kepala daerah di Madina. Namun, secara ironis, dia justru selalu kandas dalam empat kali pencalonan legislatifnya sendiri.
Fenomena itu menunjukkan adanya jurang antara logika ketokohan dan logika elektoral. Menjadi pengatur strategi yang cerdas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas personal yang bisa dikonversi menjadi suara.
Selain itu, pengakuan bahwa dirinya belum layak disebut tokoh masyarakat mencerminkan beban psikologis dan keresahan batin seorang politisi senior yang merasa legitimasi tertingginya hanya bisa diraih jika dia berhasil menduduki kursi parlemen.
Langkah Atika Azmi yang secara terbuka mengajak Faslah berpindah ke Partai Gerindra merupakan manuver taktis yang sangat terhitung. Ajakan ini muncul di saat yang tepat, karena adanya vakum figur di daerah pemilihan utama setelah Erwin Efendi Lubis menyatakan tidak akan maju lagi di tingkat kabupaten.
Gerindra jelas membutuhkan figur dengan basis massa dan jaringan kuat untuk mempertahankan kursi tersebut. Dengan cerdik, Atika menawarkan Gerindra sebagai solusi instan bagi kegagalan beruntun yang dialami Faslah Siregar, seolah menyiratkan bahwa masalah utamanya mungkin bukan pada sang figur, melainkan pada mesin partai yang dia gunakan selama ini.
Namun, upaya menarik Faslah terbentur pada identitas ideologis yang sangat kuat. Istilah “darah yang terlalu hijau” yang dilontarkan Atika merupakan pengakuan bahwa PKB bagi Faslah bukan sekadar kendaraan politik, melainkan identitas kultural yang mendarah daging.
Saat ini, Faslah berada di persimpangan jalan yang sulit. Dia bisa memilih untuk tetap bertahan demi menjaga marwah sebagai kader loyal dengan risiko kembali gagal jika mesin partai tidak dibenahi. Atau mengambil peluang emas di Gerindra untuk mengakhiri kutukan kekalahan meski harus berisiko kehilangan basis massa tradisional yang mementingkan simbol warna partai.
Sebagai kesimpulan, meski dibungkus dalam suasana penuh tawa, pernyataan Atika Azmi merupakan sinyal kuat mengenai pergerakan kekuatan politik menuju kontestasi mendatang.
Bagi Faslah Siregar, momen ini boleh jadi ujian. Apakah dia akan tetap menjadi penjaga gawang setia bagi PKB? Ataukah memilih menjadi penyerang di klub baru demi mencetak gol pribadinya di Gedung Rakyat?
Pendopo Rumah Dinas Bupati malam itu telah menjadi saksi bahwa di Madina, garis antara kawan, lawan, dan rekan koalisi bisa menjadi sangat tipis dan cair. Bahkan, hanya bermula dari sebuah candaan di atas podium.(*)
Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id





Discussion about this post