Siabu, StarNews – Riuh rendah suara anak-anak biasanya menandakan dimulainya materi pelajaran baru di awal semester. Namun, di SDN 043 Muara Batang Angkola, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina), Senin (5/1/2026) pagi, suasana itu digantikan oleh bunyi gemericik air dalam ember dan gesekan sikat di atas kayu.
Alih-alih membuka buku baru, tangan-tangan mungil para siswa justru menggenggam gayung dan kain lap. Hari pertama sekolah usai libur panjang tahun baru tidak diisi dengan doa pembuka kelas, melainkan dengan berjibaku melawan sisa-sisa amukan alam.
Beberapa waktu lalu, banjir besar dengan ketinggian mencapai lebih dari dua meter menerjang desa mereka. Saat air surut, yang tertinggal hanyalah lapisan lumpur tebal yang menyelimuti setiap sudut ruang kelas.
Fasilitas kebanggaan sekolah kini luluh lantak. Komputer, alat marching band, hingga layar televisi bantuan Presiden Republik Indonesia—yang biasanya menjadi jendela informasi bagi anak-anak di sana—kini tak lagi berfungsi, terendam air dan material banjir.
Di bawah terik matahari pagi, pemandangan mengharukan terlihat di halaman sekolah. Sejumlah siswa yang datang dengan seragam lengkap tampak tak ragu mengotori tangan mereka. Namun, melihat semangat itu, pihak sekolah segera meminta mereka pulang sejenak untuk berganti pakaian biasa agar bisa lebih leluasa bekerja.
“Hari ini, siswa dan guru masih bergotong royong membersihkan material lumpur. Kami juga mengumpulkan kembali kursi dan meja yang sempat terbawa arus banjir hingga ke pemukiman warga,” ujar Khairani Hasibuan, kepala SDN 043 Muara Batang Angkola.
Meski akses menuju sekolah terbilang sulit pasca bencana, tingkat kehadiran siswa justru mengejutkan. Anak-anak yang tinggal di seberang sungai Muara Batang Gadis tetap datang dengan semangat yang tak luntur oleh lumpur. Bagi mereka, sekolah bukan sekadar bangunan, tapi rumah kedua yang harus segera diselamatkan.
Khairani menjelaskan proses belajar mengajar terpaksa ditunda demi memastikan kenyamanan dan kebersihan ruang kelas. Targetnya, jika pembersihan selesai hari ini, besok pagi lonceng sekolah akan kembali berdentang untuk memulai kegiatan akademik yang normal.
Namun, semangat saja tidak cukup. Pihak sekolah kini hanya bisa menatap nanar pada kursi dan meja yang mulai lapuk serta fasilitas elektronik yang rusak total.
“Kami sangat berharap pemerintah daerah memberikan bantuan fasilitas yang rusak. Kami ingin siswa dan guru bisa kembali belajar dengan fasilitas yang layak seperti sediakala,” harap Khairani.
Hari ini, SDN 043 Muara Batang Angkola memang masih berselimut duka akibat bencana. Namun, dari sikat-sikat yang menari di atas meja berlumpur itu, tersirat pesan kuat: pendidikan tidak boleh mati, bahkan oleh banjir setinggi dua meter sekalipun.
Reporter: Agus Hasibuan





Discussion about this post