Pintupadang Jae, StartNews– Tradisi menganyam tikar dari daun pandan atau yang dikenal masyarakat setempat dengan istilah mambayu, masih terus dilestarikan oleh sebagian masyarakat di Desa Pintupadang Jae, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Meskipun perkembangan zaman telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari, sebagain warga tetap berusaha mempertahankan keterampilan ini agar tidak hilang dimakan waktu.
Salah satu warga yang masih aktif melestarikan mambayu adalah Rosmadani. Ibu rumah tangga ini memiliki keahlian mengayam tikar pandan sejak usia belia. Keahlian tersebut dia warisi dari sang ibu, yang juga pengayam tikar andal pada masa lalu.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa membantu ibu menyiapkan daun pandan untuk dianyam. Lama-lama saya bisa sendiri dan sampai sekarang masih meneruskannya,” ujar Rosmadani.
Mahasiswa STAIN Mandaling Natal yang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 2 mengunjungi kediaman Rosmadani pada Sabtu, 9 Agustus 2025.
Di kediaman Rosmadani, mereka melihat langsung proses pembuatan tikar pandan. Mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi juga terlibat langsung dalam beberapa tahap pembuatan, mulai dari mengikis daun pandan, merendam daun pandan, menata helai daun pandan untuk dikeringkan hingga membantu merangkai corak dan motif. Proses ini membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan keterampilan tangan yang baik, karena satu kesalahan kecil dapat merusak pola anyaman.
Bahan utama yang digunakan adalah daun pandan tikar. Sebelum dianyam, daun-daun tersebut telebih dahulu dibersihkan, dikeringkan, dan diberi pewarna alami maupun sintetis untuk menciptakan motif menarik. Proses pembuatan satu tikar umumnya memakan waktu dua hingga tiga hari, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain.
Harga jual tikar buatan Rosmadani berkisar Rp85.000 hingga Rp100.000 per buah, menyesuaikan ukuran dan kualitasnya.

Sayangnya, minat generasi muda untuk belajar membayu masih tergolong rendah. Kesibukan sekolah, kurangnya waktu luang, serta minimnya promosi membuat keterampilan ini berisiko semakin jarang ditemukan pada masa depan.
Melihat kondisi ini mahasiswa KKN Kelompok 2 STAIN Madina ikut ambil bagian dalam upaya pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian budaya lokal.
Selain belajar dan membantu proses mambayu, mahasiswa juga membuat spanduk promosi untuk memperkenalkan produk tikar pandan kepada masyarakat yang lebih luas.
Tidak hanya itu, mereka juga memetakan lokasi usaha mambayu Rosmadani di Google Maps. Langkah ini diharapkan memudahkan calon pembeli untuk menemukan lokasi produksi, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas melalui platfrom digital.
Ketua KKN Kelompok 2 Desa Pintupadang Jae Ahmad Sulaiman mengatakan program ini merupakan salah satu upaya nyata untuk membantu meningkatkan pengembangan ekonomi masyarakat Pintupadang Jae.
“Kami ingin keterampilan mambayu ini tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Promosi dan akses yang mudah diharapkan bisa membuka pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Rosmadani pun menyambut inisiatif mahasiswa KKN. Dia mengaku senang dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan. “Saya bersyukur ada mahasiswa yang mau datang, belajar, dan membantu mempromosikan tikar ini. Semoga usaha ini membawa kebaikan dan rejeki bagi kita semua,” tuturnya.
Dengan adanya sinergi antara keterampilan tradisional mambayu dan dukungan inovasi dari mahasiswa KKN STAIN Madina Kelompok 2, Desa Pintupadang Jae membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya dapat dilestarikan, tetapi juga dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari gerakan besar yang menginspirasi masyarakat untuk terus menjaga budaya, menguatkan ekonomi dan membangun desa menuju masa depan yang lebih sejahtera.
Reporter: Rls





Discussion about this post