Bupati Madina H. Saipullah Nasution bakal memindahkan agenda upacara pemerintah dari Masjid Agung Nur Ala Nur Panyabungan ke Taman Raja Batu (TRB) Blok D. Kebijakan ini bertujuan mengembalikan fungsi utama masjid sebagai pusat ibadah dan wisata religi yang bebas dari kegiatan formal birokrasi.
Panyabungan, StartNews – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution mengumumkan kebijakan baru terkait penggunaan fasilitas publik di lingkungan pemerintah daerah. Kedepannya, seluruh agenda upacara dan kegiatan formal birokrasi yang selama ini berpusat di halaman Masjid Agung Nur Ala Nur Panyabungan akan dialihkan ke lokasi baru guna menjaga kesucian dan fungsi utama rumah ibadah.
Keputusan itu disampaikan Saipullah di sela-sela acara pengukuhan pengurus Masjid Agung Nur Ala Nur masa bakti 2026–2028 pada Senin (16/2/2026).
Saipullah menyebut kebijakan itu sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memisahkan aktivitas administratif pemerintahan dengan kegiatan religius di lingkungan masjid kebanggaan masyarakat Madina tersebut.
Saipullah mengatakan Pemkab Madina telah menyiapkan kawasan Taman Raja Batu, khususnya di area Blok D, sebagai alternatif utama. Lokasi tersebut akan segera direnovasi dan ditata ulang agar representatif menjadi lapangan upacara pusat perkantoran. Rencana ini diharapkan dapat menciptakan batas yang jelas antara ruang publik untuk urusan kedinasan dan ruang sakral untuk peribadatan.
Saipullah menegaskan selama ini penggunaan halaman masjid untuk upacara formal dinilai kurang ideal jika terus berlanjut. Dia menginginkan agar pengurus masjid memiliki keleluasaan penuh dalam mengelola area tersebut demi kepentingan umat tanpa terganggu oleh agenda birokrasi yang padat.
“Kedepan insya Allah akan kami pindahkan ke Blok D yang direncanakan menjadi lapangan upacara kegiatan kantor, sehingga pengurus masjid bisa memanfaatkan halaman ini untuk kegiatan keagamaan,” ujar Saipullah saat memberikan arahan kepada pengurus masjid yang baru dilantik.
Saipullah menjelaskan, kebijakan itu bertujuan mencegah terjadinya tumpang tindih antara nuansa formal birokrasi atau politik dengan fungsi utama masjid sebagai pusat ibadah.
Dengan dipindahnya lokasi upacara, halaman Masjid Agung Nur Ala Nur diproyeksikan bertransformasi menjadi pusat aktivitas yang lebih religius, seperti taman wisata religi atau ruang terbuka hijau bagi masyarakat yang ingin beritikaf dan berwisata spiritual.
Selain penataan lokasi, Saipullah juga mendorong peningkatan kualitas kegiatan dakwah di Masjid Agung Nur Ala Nur. Dia berharap Masjid Agung mampu menjadi motor penggerak syiar Islam di Madina melalui penyelenggaraan pengajian akbar yang rutin dan terstruktur.
“Nanti kita atur bergiliran siapa yang menjadi tuan rumah. Untuk pembukaan bisa diserahkan kepada camat, sehingga pengurus BKM cukup merencanakan kegiatan dan tema yang akan diusung,” katanya terkait rencana mengundang penceramah berskala nasional guna menyemarakkan kegiatan keagamaan di Madina.
Reporter: Fadli Mustafid





Discussion about this post