• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Maret 31, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Pesantren dan Tradisi Lapis Spiritual

OLEH: Thobib Al Asyhar | Alumni Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak.

by Redaksi
Senin, 3 April 2023
0 0
0
Pesantren dan Tradisi Lapis Spiritual

Thobib Al Asyhar.

ADVERTISEMENT

RAMADAN selalu mengingatkan saya tentang masa lalu. Masa saat saya mondok selama enam tahun di pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak. Ingatan saya tentang masa itu masih tersimpan rapi sehingga momen demi momen tak terlupakan hingga kini.

Secara umum, pesantren memang tempat “menanam” kesan. Kesan baik tentu saja, meski tetap saja ada sedikit kenangan buruk. Hal itu wajar karena hidup tidak selalu inline dengan harapan. Misalnya ada santri-santri yang kena ta’zir potong gundul karena nonton film layar tancap di luar pondok.

Nah, saat Ramadan tiba, seakan seluruh kenangan itu muncul kembali. Dari hal sederhana, hingga yang cukup kompleks. Ada rasa bahagia ketika mengingatnya. Kadang ada pula yang membuat saya tersenyum sendiri, seakan ingin jarum waktu kembali berputar ke belakang.

Lebih dari itu, ada satu kenangan yang terpatri hingga kini. Saya pun yakin, semua santri masih terngiang, yaitu wirid rutin membaca Al-Fatihah 1.000 kali selesai Subuh berjamaah. Setiap hari. Tidak ada jeda hari untuk libur membaca Al-Fatihah sebanyak 1.000, usai jamaah Subuh, dan di satu waktu (sekali majelis).

Bisa dibayangkan, membaca Alfatihah 1.000 kali sekali majelis itu bukan hitungan menit. Membutuhkan minimal waktu sejam. Dan sekali lagi, itu dilakukan setiap hari, selepas Subuh. Rerata para santri yang jumlahnya ribuan di dalam masjid tidak semuanya “on” atau “sadar” sejak Al-Fatihah pertama hingga akhir. Ya, mayoritas santri mengantuk. Kenapa?

Semua tentu maklum. Aktifitas harian di pondok itu sangat padat. Mulai bangun tidur jam empat dini hari hingga jelang tidur jam 22.00 atau 23.00. Bahkan sering santri begadang karena belajar, atau sekedar ngobrol santai hingga larut malam. Selain mengaji kitab, sekolah, salat berjamaah, juga ada agenda-agenda rutin, sepertitaklimul khithabah, bahtsul masail, kerja bakti, dan lain-lain.

Tentu, membaca wirid bukan tanpa tujuan. Wirid panjang ala pondok itu agar para santri memiliki lapis spiritual. Sebagai makhluk ruhani, manusia, khususnya santri harus dibekali dengan wirid-wirid khusus agar kelak memiliki “kekebalan” spiritual. Tidak mudah goyah oleh “serangan” materialisme. Pun pula tidak mudah roboh jika mendapat “tembakan” jahat yang tak nampak.

Bekal wirid santri bukan hanya itu. Selepas Maghrib, mereka juga dibekali wirid “Ratibul Haddad”. Salah satu zikir yang sering dibaca masyarakat Muslim dunia. Ratib ini disusun oleh salah seorang ulama terkemuka dari Hadramaut, yakni Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad.

Beliau adalah seorang mujaddid (pembaharu) di masanya. Karya tulis beliau terbilang cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru dunia, di antaranya adalah:an-Nashaih ad-Diniyah, Risalah al-Muawanah, an-Nafais al-‘Alawiyah fi al-Masail as-Shufiyah.

Jadi, santri memang sangat lekat dengan wirid panjang. Bahkan kompleks untuk tujuan yang banyak. Wirid yang bukan sekedar bacaan rutin tanpa maksud. Di balik rutinitas spiritual tersebut, ada makna yang begitu mendalam. Yaitu, para kyai ingin melapisi para santri secara spiritual dengan membiasakan wirid-wirid yang“musalsal”setiap kali selesai salat.

Wirid yang bersanad. Wirid yang memiliki kelekatan spiritual sebagai perisai diri. Tameng dari perilaku buruk agar santri tetap istiqamah menjalankan tiga prinsip utama hidup ala pesantren, yaitu Sun Three (tiga matahari, english), yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Santri adalah sosok-sosok beriman, yang menjalankan Islam secara konsisten, dan melengkapi dengan Ihsan, yaitu perilaku mulia dengan “akhlaqul karimah”. Dengan wirid, para santri menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual. Mereka memiliki kesalehan yang tidak luntur oleh zaman karena kuatnya lapisan spiritual.

Apalagi di momen Ramadan seperti saat ini. Seluruh amalan-amalan mulia, khususnya ibadah-ibadah sunnah dijalani dengan sepenuh jiwa. Santri yang istiqamah menjalani lakon wirid sebagai perisai spiritual akan tetap menjadi pribadi yang humble, menyenangkan, dan memiliki keterikatan untuk selalu memberi manfaat bagi sesama. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)

Tags: pesantrenTradisi Lapis Spiritual
ShareTweet
Next Post
Desakan DPRD Bentuk Pansus Pj. Kades Mencuat

Desakan DPRD Bentuk Pansus Pj. Kades Mencuat

Discussion about this post

Recommended

Libur Lebaran, Pemdes Tabuyung Dirikan Posko Pengamanan di Pantai Batu Ruso

Libur Lebaran, Pemdes Tabuyung Dirikan Posko Pengamanan di Pantai Batu Ruso

2 tahun ago
Kadis PMD Madina: Perjanjian Cakades Hutadamai Tak Bisa Batalkan Hasil Hitung Suara

Setelah Pemungutan Suara, Ini Tahapan Selanjutnya Pilkades Serentak di Madina

3 tahun ago

Popular News

  • Ini Pengganti Dua Kadis dan Satu Kaban di Pemkab Madina yang Undur Diri

    Ini Pengganti Dua Kadis dan Satu Kaban di Pemkab Madina yang Undur Diri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala BKPSDM Madina Ungkap Alasan Dua Kadis dan Satu Kaban Undur Diri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Malapraktik, Keluarga Pasien yang Tangannya Diamputasi Somasi RS Permata Madina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Korban Lagi, Polda Sumut Janji Gelar Operasi Penindakan PETI di Madina Pasca Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pletan Berupaya Mengisi 45 Persen Ceruk Pasar Ikan Lele di Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025